Masalah itu menurut saya muncul karena yang satu terlalu gampang percaya dan terlalu buru-buru mengambil keputusan, sehingga jadilah gegabah.

Saya ini tipical yang tak mudah percaya begitu saja. Kalaupun saya bisa “mempercayai” seorang penipu, itu sudah saya prediksi di awal biasanya bahwa ini orang cuma penipu kampungan, tapi tak mengapalah karena saya perlu tahu lebih banyak sejauh mana kebrengsekan seorang penipu. Enjoy the game then. Tapi tidak dengan kawan saya itu. Padahal kawan saya dan saya itu sesama gemini, tapi mengapa dia gampang percaya dan saya tidak ya?

Dulu suka ada lelaki gombal yang sering memberi janji-janji surga dunia (jaman pacaran), di depan dia saya berbunga-bunga, tapi di dalam hati saya mencibir. Buat saya bicara itu gampang memang, membuktikan itu yang sulit. Mengapa tak buktikan saja dulu lalu bicara belakangan? tapi jarang banget yang seperti ini; bukti dulu lalu kata pengantar tuh jaraaang banget.

Jadi gak heran saya gak pernah ambil hati atau anggap serius beratus ratus macam rencana, atau janji atau mimpi2 indah yang melibatkan saya di dalamnya, atau saya cuma numpang denger doang. Sobat saya kadang sampai kesal : Susah sekali meyakinkan kamu ya?, katanya dengan mimik putus asa. Saya cuma angkat bahu. Tapi ketika dia menunjukkan tanda terima uang muka pembayaran perjalanan umroh atas nama saya, saya pun percaya. Hahahaha. Itu yang saya maksud “Bukti” lebih penting dari proposal!

Jadi begitulah, akibat gampang mempercayai ucapan orang, teman saya pun akhirnya harus gigit jari. Banyak keputusan yang akhirnya dia cancel dengan pihak ke 3, dengan rasa malu. Bahkan harus mencari investor baru untuk proyek yang kadung dia buat. Dia pikir semua yang telah dia putuskan itu telah mendapat jaminan back up  dari orang yang dia “percaya”. Terlalu cepat kawan saya itu memutuskan untuk percaya, padahal belum ada bukti2 bahwa orang itu serius.

Saya tak seperti itu. Jadi beruntunglah suami saya sebetulnya. Ntah sudah berapa banyak janji2 manis dan mimpi2 yang dia tumpahkan, tapi saya tak gampang percaya sehingga mudah melupakannya. Saya tak suka kembang2 muluk seperti itu. Kalau jadi buluk, saya juga yang rugi terlanjur mengingatnya. Jadi sudah sejak saya remaja kebiasaan untuk tak gampang percaya saya terapkan untuk melindungi diri saya sendiri.

Saya dijanjikan pekerjaan dengan gaji mengiurkanpun saya sambut dengan emoticon histeris bahagia, tapi hati saya ? facepalm* hahahaha. Lucunya kawan2 lain bisa dengan mudahnya termakan dan mudahnya percaya … lalu jadi berharap. Again; berharap itu pada ALLAH, bukan pada manusia. Bukannya saya tak ingin menyeriusi, ingin, tapi tak bisa, atau tepatnya tak biasa.

Keyakinan penuh bahwa bukti itu jauh lebih akurat dari omongan, benar2 sudah membatu di pikiran saya, tak bisa dirubah lagi. Dan tempaan hidup yang pahit dan tak menyenangkan telah mengajarkan saya bahwa mulut manusia bisa ngember se-sumur, tak habis-habis. Tapi keputusan bukan ada pada mulut mereka, bukan pada manusia, melainkan pada ALLAH. Jadi tak usah berbunga-bunga ketika mendengar janji manis manusia, tapi berharaplah dengan ketakwaan pada Sang Kuasa pada sujud kita, pada tadah tangan kita dalam doa doa yang khusuk.

Saya berusaha menasehati kawan saya supaya next time dia jangan terlalu gampang percaya. Tapi nampaknya tak terterima. Oh well , sa’karep mu lah. Keputusan ya keputusan dia sendiri yang buat, apes ya apes dia sendiri yang rasa. Saya cuma sampai di pintu nasehat saja.

 

Advertisements