Archive for April, 2017


Demi Masa; a Mentally Prepare

Jaman sekarang gerak informasi sudah luar biasa cepat bukan main. Tak ada lagi jarak yang membatasi kecepatannya. Semua berita dunia bisa dalam satu genggaman tangan: gadged

Masa tak akan mundur ke jaman batu. Jaman dimana anak masih bebas bermain tanpa takut diculik lalu dijual organ tubuhnya. Masa dimana dongeng masih dikumandangkan sebelum tidur, bukannya malah main game. Masa masa yang banyak tenangnya karena teknologi juga masih tivi kayu kotak hitam putih dengan antena yang harus dimiring miringkan kesana kemari supaya semut semut pergi.

Masa ini jelas melaju menuju masa kehancuran ahlak, masa penuh kebingungan, masa dimana tipu daya manusia mencapai puncak keemasannya. Dan kita masih bisa berdiam diri? tak melakukan sesuatu? paling tidak dengan ilmu kita, kita membekali anak anak kita dengan tips dan triks bagaimana mendeteksi islam yang sesungguhnya, bagaimana mengetahui islam radikal, atau bagaimana membekali mereka dengan contoh kasus yang kelak akan sering mereka hadapi di jamannya kelak.

Mungkin karena saya dilahirkan bersifat ingin tahu, jadi saya tak pernah letih mencari. Bukan untuk mengikuti trend, bukan pula untuk sok tau, tapi saya murni memang pencari tahu. Saya bisa terbangun jam dua malam dan mencari tau sesuatu yang mengganggu pikiran saya, karena saya tak suka diperbudak pikiran. Berpikir itu lelah, itu sebabnya segeralah cari tahu!!

Saya tak bisa disuruh slow down untuk hal hal yang mengganggu pikiran saya dan minta segera dicari jawabannya, tak bisa. Itu sebab ketika adik libra saya mendebat saya tentang sesuatu yang saya sudah tau lama, lalu dia membuka masalah yang buat saya sudah tuntas urusannya, sedangkan saya juga sudah melejit ke puncak masalah teratas, saya tak bisa. Saya tak bisa diajak mundur. Yang saya tahu sudah terlalu banyak dan jelas soal masalah itu. Dia tak tau apa apa karena dia memang bukan pencari tau seperti saya. Jadi saya lebih memilih meninggalkan “debat” telat waktu dan terus melaju ke atas. Saya lebih baik stuck diatas sana daripada harus turun kembali ke bawah , mendebat hal yang buat saya sudah ketinggalan jaman dan tak penting lagi. Lagipun bukan saya yang punya power merubah mindset orang. Cukup beberapa fakta saya beberkan, kalau gak terima yo wes. Cari tau sendiri, i am out.

Simpel saja buat saya. Tak seperti orang lain yang “terlalu lugu” berpikir bahwa ini cuma politik, ngapain ikut ribet? Saya melihat ini sebagai jaman tipu daya yang orang banyak memainkan tipuan untuk kepentingan2 jahat. Saya ingin meng edukasi anak-anak saya bahwa gini lo politik itu. Ketika mereka bertanya: “Mengapa Pak Ahok dan Pak Jokowi dibenci?, bukankah mereka baik?” masa iya saya harus bilang “Ah tau apa kamu? paling juga dijelasin gak ngerti”. Oooh hoh hoho, tidak sama sekali. Saya akan senang hati mengisahkan perpolitikan di tanah air dan mengapa orang baik selalu diserang orang jahat. Gini lo ciri2 bad guys, gini ciri2 good guys. Lalu saya tes case, misal ada kasus bla bla bla, menurut kamu siapa yang bisa kita percaya? dan lain sebagainya.

Andaikan wawasan saya tak luas, yang saya tau cuma bersihkan rumah, ngomel dan masak, bagaimana saya bisa mengedukasi anak anak saya sebagai bekal mereka menghadapi dunia tipu daya ini? Jaman saya dulu tak seberat sekarang karena informasi cuma dari satu pintu, tapi jaman mereka kelak, akan sangat berbeda. Informasi akan datang membabi buta mengacaukan nalar mereka, sehingga mereka susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah atau mana yang jebakan. Jadi saya harus menjadi kepo untuk anak anak saya.

Untuk bekal mereka supaya kelak gak lugu2 amat ditipu tipu manusia manusia yang sok alim dengan membawa bendera bendera agama, berdaster bersorban padahal mereka ulama su. Supaya mereka tak gampang kagum pada penampilan religius seseorang, supaya mereka tak gampang menilai orang hanya karena sinis rasial dan beda agama. Saya mengokohkan pada mereka bahwa islam itu yang benar adalah yang lebih mengajak damai daripada ribut, lebih suka memberi maaf daripada menuntut, dan jangan gampang menilai orang cuma dari penampilan. Ada setan berjubah ulama dan ada malaikat berpenampilan gembel. Ada teman yang menguasai ilmu agama tapi hatinya jahat, dan ada kaum ahli kitab (nasrani dan yahudi) yang bukan islam tapi hatinya baik, maka pilihlah yang baik itu untuk ditemani. Mereka akan jauh lebih aman untuk mu daripada yang se islam tapi ngajakin kamu korupsi.

Yah seperti itu….

 

Hidup

Sebagai manusia kadang2 saya merasa letih. Hdup ternyata begitu kerasnya dan saya sama sekali tak pernah meminta harus dilahirkan, saya bahkan tak peduli surga dan neraka. Saya betul2 tak minta dilahirkan untuk diuji. Mengapa tak ciptakan saya menjadi malaikat yang tak punya rasa, atau greget apapun seperti layaknya manusia. Tak menjadi sebuah masterpiece ciptaan pun tak mengapalah, karena hidup ternyata tak asik. Dari lahir sudah berkubang masalah, dan tak kunjung berhenti diterpa masalah. Manusia hanya dipindahkan dari mangkok masalah A, ke mangkok masalah B, begitu terus sampai masa hidup berakhir. Dicuci kataNYA, dibersihkan kataNYA. Tapi saya tak suka, lalu mana hak saya untuk menolak dilahirkan? mana hak saya untuk menolak diciptakan menjadi manusia? bagaimana jika saya lebih memilih menjadi malaikat? MemujaMU, didekatMU, menjadi pelayanMU tapi tanpa harus KAU uji?

Tapi Tuhan tak sejahat pikiran saya itu. Bagaimanapun ketika di alam ruh, saya pasti sangat mencintaiNYA, saya selalu bersujud dengan penuh rasa takwa kepadaNYA, saya menatapNYA dengan buncah2 pemujaan yang tak terperi besarnya, mengagumiNYA dengan sepenuh ruh saya.

Lalu ketika DIA memilih saya untuk dilahirkan sebagai manusia, dengan cinta yang besar, saya bersujud sukur dihadapanNYA, berterimakasih menjadi pilihan dengan sebuah nama berbinti dan buku jalan kehidupan yang harus kelak saya tempuh demi membuktikan cinta saya padaNYA. Dan DIA menjanjikan saya akan kembali padaNYA dengan hadiah surga jikalau saya bisa tetap mencintaiNYA setelah semua ujian yang DIA berikan pada saya. Karena kalau cuma sekedar menjadi ruh, saya tak akan pernah mencicipi surga yang DIA bangun atas nama cinta terhadap ciptaanNYA, the best creation HE has made : manusia. Dan para malaikat hanya akan menjadi pelayan..Dia memilih saya untuk menjadi pemilik surga, bukan pelayan penghuni surga.

“Jika kau rindu AKU, Aku selalu dekat dihatimu. sedekat urat nadi dilehermu ” Begitu surat cintaNYA. “Jika kau ingin bertemu AKU, sholatlah. AKU turun ke bumi setiap 1/3 malam. AKU selalu menunggu kau datang, dan kapan saja kau datang, AKU ada. Jika kau masih ingat betapa dulu kau begitu mencintaiKU, kau tak akan pernah berat melakukan semua tugasmu di bumi ini. Tapi dimana nanti letak perjuanganmu jika ingatanmu tentang cintamu padaKU di alam ruh tak kukaburkan? Kuatkan hatimu dari gangguan setan dengan terus menjalankan apa yang KU perintahkan padamu untuk kau jalankan. Jangan sekalipun kau menyerah. AKU telah memilihmu untuk menghuni surga yang kubangun untukmu. Bertahanlah cintaKU. AKU akan membantumu menemukan AKU, memandumu, dan terus menjagamu, selama cintamu padaKU bisa kau tunjukkan. Buktikan padaKU bahwa kau tak pernah lupa pada KEKASIHmu yang tak lagi bisa kau lihat, tapi selalu menunggumu dengan sabar. Berjuanglah demi AKU dan jangan pernah lupakan AKU yang telah memilihmu sebagai yang terbaik”

Tak mudah mengingat betapa kuat cinta kita padaNYA ketika kita masih di alam ruh sana, tapi jujur pada dirimu sendiri… rasa itu ada. Jejaknya itu ada. Kau bahkan bisa menangis tanpa henti jika kau menemukan sedikit saja jejak itu…..

Temukanlah berkali-kali jejak itu. Teruslah mencari jejak itu. DIA tak pernah menghilangkannya 100%, DIA menyisakannya sedikit untuk memandumu dan mengikatmu agar selalu dekat kepadaNYA. Sehingga apabila CINTA memanggilmu pulang, kau akan begitu bahagia menyambut saat itu, berlari kembali padaNYA dan siap mengikuti seleksi selanjutnya dengan banyak kemudahan yang akan DIA limpahkan kepadamu. Sesingkat apapun hidup kita atau sepanjang apapun hidup kita will not make any difference then….since kita memang tak pernah kehilangan Sang Pencinta dan selalu mengharap pertemuan denganNYA.

Kau percaya?

Orang yang saya pilih untuk saya jagokan sebagai gubernur DKI kalah voting. Tapi tak mengapa, saya percaya Tuhan tidak tidur dengan membiarkan orang baik dan amanah di dholimi sedemikian rupa. Selalu ada rencana besar dibalik sebuah perubahan, ntah perubahan itu dikehendaki ataupun tak dikehendaki; ntah perubahan itu sesuai dengan keinginan dan harapan kita atau malah sebaliknya. Yang Allah janjikan hanya satu : Trust Me, Allah itu Maha Adil dan sebaik-baik Perencana. Then be it.

Yang jelas lewat kasus “tersingkirnya gubernur hebat” ini saya bisa melihat siapa-siapa saja yang punya “bibit” intoleransi, susah memaafkan, rasial, gampang terhasut, retorika daripada kerja nyata, dan tabayunless. Silahkan tambah sendiri sisanya (kalau masih ada). Seperti mencampurkan air dan minyak dalam satu gelas kasus….”pemisahan” itu terlihat sangat nyata, mana kumpulan minyak dan mana kumpulan air, begitulah yang terjadi dengan pesta demokrasi DKI.

Hak kalian menyalahkan seseorang, dan hak kalian memilih seseorang, tapi bibit yang kalian punya dalam hati menunjukkan siapa kalian. Saya tak akan mengutak-atik apa yang sudah ada dalam hati kalian itu karena bukan saya yang meletakkannya disana. Kalau Tuhan berkenan, Tuhanlah yang akan mengangkatnya, bukan saya.

Itulah sebabnya ketika saya diajak debat tentang mengapa tuduhan “penista” itu keluar, setelah yang dituduh penista itu kalah voting, saya benar2 sudah muak. Bibit2 itu sudah ada dalam dirimu dan saya bukan Sang Maha Membetulkan. Bibit2 itu pulalah yang di”makani” sehingga orang baik kalah. Bibit2 itu yang selama ini saya coba “hilangkan” dengan menunjukkan banyak pendapat lain “diluar” kotak mereka, dan ternyata tak berhasil. Bibit2 itu tumbuh subur bak lumut di kolam lembab tak terpakai. Bukan urusan saya membersihkan bibit2 itu, saya hanya menyampaikan. Apabila tak bisa diterima ya sudah. Keep it yourself. Semoga membawa kebaikan untuk dirimu. I am out.

Kadang2 memang ada hal yang tak perlu dipaksakan untuk diterima.

377fe0dadfec9f31ac5332a5f376210f420f08109317028b4effccc543294204

Keruh

Rasanya kepala ini merekah, tiap kali ada gangguan pada perasaan.

Bagaimana bisa orang yang sudah berumur cukup , jam terbang hidup tinggi, dengan tingkat intelektual mumpuni, bisa tiba-tiba menjadi idiot ketika mengedepankan ego. Seperti ayam yang kocar-kacir panik ketika melihat macan mengintip. Apakah menutupi rasa bersalah bisa membuat orang nampak setolol itu?

Apa sih yang dijagokan? memimpin tak bisa, bertanggung jawab tak bisa, menasehati tak bisa, boro2 mengimami, tapi bertindak bak penguasa. Kalah pulak firaun dibuatnya??

Look, how can I appreciate people who can’t appreciate me? how can I trust people who can’t show me that he could be trusted? how?

 

Waktu

Sesungguhnya setiap benda hidup atau mati, dan bahkan diri kita sendiri memiliki waktu tertentu. Spesifik waktu tentang hitungan jam sampai detik kapan ia akan habis “bertugas” dimuka bumi ini untuk masing2 kita. Semua membawa “jam” nya masing2.

Andai kita bisa melihat jam itu, kita akan menghargai dan mensyukuri keberadaan mereka, keberadaan kita. Kita akan selalu bisa melihat kapan mereka akan pergi atau rusak? Berapa lama lagi kebersamaan itu? Pentingkah pertikaian jika waktu perpisahan sebentar lagi? Pentingkah membenci jika besok kita mati? 

Masalahnya, “jam bertugas” di dunia ini kasat mata. Ujian untuk melihat seberapa bagus kita menghargai hidup kita dan orang2 disekitar kita, melihat seberapa tulus kita mencintai?, Melihat seberapa kuat kita bersabar?, Melihat seberapa jauh kita bertahan untuk mensyukuri nikmat pemberianNya? Tanpa harus tau kapan berakhirnya..

Seberapa ?