Archive for May, 2017


Ujian

Ujian kali ini masuk lewat jalur politik. 

Saya itu gemini yang paling gak tahan liat manusia2 celenok yang gak tau apa-apa tapi nantang debat. Ternyata tantangan menjelaskan sesuatu pada orang bodoh itu berbeda rasanya dengan tantangan menjelaskan sesuatu pada orang pintar. Ada titik dimana si orang pintar ini berhenti untuk mikir. Jikalau dia mulai mengerti dia akan sedikit berubah meski tetap gak mau ngaku salah. But for me, it is fine! Sementara sama si orang bodoh, apapun yang kita jelaskan, semua akan mental ke antariksa. Dua hal saja, mereka akan masukkan hal baru untuk menjatuhkan lawan ketika kalah, atau muter2 di permasalahan gak nemu nemu intinya dan buat kita yang memperhatikan, itu sangat meletihkan jiwa raga.

Kata orang; biarkan saja mereka. Biarkan? Kalau ada 3 juta kepala seperti itu bagaimana? 3 juta bodoh tapi punya hak vote itu berbahaya sekali. Banyak kok yang putar haluan karena tercerahkan, so why not try meski resikonya adalah lelah hayati…

Dont say buat apa mikir negara wong mikir hidup sendiri aja susah. 

Bukan negara sebetulnya, tapi lebih luas dari itu, yaitu orang orang yang banyak manfaatnya bagi orang banyak, tapi didholimi! Kan kasian orang2 yang tadinya dapat manfaat dari mereka??? Saya gak bisa melihat hal hal seperti ini. Bukan karena saya pernah merasa tak dihargai oleh orang yang saya hargai saja, tapi saya juga pernah merasakan bahwa memberi manfaat bagi orang lain dengan sebaik baiknya itu adalah perjuangan berat. Itu bukan hal kecil apalagi skupnya luas.

Betapa bodohnya orang-orang yang berusaha menyingkirkan manusia-manusia terbaik ciptaanNya. Karena seumur hidup saya, manusia yang bermanfaat bagi orang banyak itu hanya segelintir! Ya! Segelintir!!

Menghadapi orang2 yang anti orang baik dengan dalih apapun sangat sangat mengusik pri kebinatangan saya. Terus terang saya bisa melempar komentar menyakitkan hati. Ini menjelang puasa, ini juga menjelang ujian anak anak saya, tapi saya banyak melepas hujat tak terkendali pada mereka mereka yang anti kebaikan.

Tuhan, setiap saat saya mohon ampunMu dan meminta sabar. Tapi kebencian ini sungguh luar biasa mengoyak batas kesabaran. Nampaknya doa saja tak mampu menjauhkan saya jika tanpa aksi menghindari. Tapi saya tak hendak membiarkan semua ini. Tolong bantu saya Tuhan. Bantu saya bertahan seperti halnya Rasulullah bertahan menghadapi masyarakat jahiliah dan sabar menjelaskan kebenaran. Saya tak seujungkukupun se sabar rasulullah, tapi saya pun tak hendak berhenti meminta padaMu karena hanya Engkaulah Penguasa hati. 

Sabarkan saya…

Sabarkan saya… 

Gembeng

Kadang aku gembeng. Aku melihat sial dimana-mana. Panas menyengat kumaki, mendung tak hujan kumaki, angin kumaki, orang kumaki, hidup ini kumaki.

Kadang aku gembeng. Pikir pikir bodoh lalu marah sendiri. Seperti melempar kepala pada dinding, sakit, nangis sendiri. Menendang batu lalu teriak sendiri. 

Kadang aku gembeng. Menoleh pada sisi jelek lalu muram. Menarik selimut menutup muka lalu gelap. Membenamkan kepala dalam air lalu kelelep. Naik ke atap lalu loncat, kaki terkilir, sakit sendiri.

Kadang aku gembeng. Cari cari tulang lalu ditelan, padahal kepelang sendiri. 

Kadang aku lupa gembeng tak lihat waktu. Padahal aku bisa biasa tak gembeng. Menjadi normal waktu panjang dan membahagiakan jiwa sendiri maupun jiwa jiwa sekitar. 

Aku mau tak lagi gembeng. Tapi aku manusia. Aku dari tanah yang hina, aku bisa sehina itu. Sehina saat aku gembeng.