Archive for June, 2017


Mati

Saya itu punya kebiasaan, kalau ada yang mati, saya tracking semua jejak yang ditinggalkan alm. Melihat semua rekaman mereka, semua kenangan yang mereka tinggalkan dan semua tentang alm. Bahkan jenazahnya saya pandangi lama-lama. 

Selama saya melakukan itu pikiran saya menerawang kemana-mana.

God, hidup ini benar cuma main main meskipun bertujuan bak “saringan”. Tapi sungguh cuma main-main. Manusia bisa di”angkat” begitu saja. Begitu saja semau-mau Tuhan. Katanya sih soal kematian sudah jadi deal antara manusia dan Tuhan sebelum dilahirkan, tapi lalu dibuat lupa. Karena kalau manusia tahu kapan akan mati, bisa2 dia tak mampu menikmati kehidupan.

Begitulah saya memperhatikan tingkah polah si bakal jenazah sampai menjadi jenazah. Menyambungkannya pada kehidupan saya sendiri yang masih saya genggam entah sampai kapan. Rasanya sudah bukan saatnya berlebih-lebihan tertawa lagi karena usia terus maju. Kita harusnya takut, karena bekal hidup abadi masih belum cukup. Sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang dan tanpa bantuan siapapun kecuali amalan kita sendiri, sedang menunggu untuk dijalani. Kalau kita tak mati muda karena penyakit atau cilaka, kita pasti mati karena umur tua. Itu pasti.

Manusia harus selalu ingat mati, betapapun ingatan itu seperti pagar yang mencegah kita jatuh ke jurang yang dalam lalu mati sia sia.

Harta melimpah dan rumah megah bak istana Ratu Saba, benar2 ditinggal begitu saja, tak berarti tak bernilai kecuali harta yang dipakai di jalan Allah. Tak ada yang kita bawa dalam kubur berukuran 2 meteran itu. Tak ada kecuali kain kafan pembungkus daging yang bakal membusuk dimakan ulat. Kecantikan tak terbawa, keseksian tak terbawa, semua membusuk, bakal membusuk. Hak pakai itu telah usai…

Kalau benar rasa alam barzah itu seperti yang pernah saya mimpikan, maka jiwa kita selanjutnya hampa. Ingatan tersisa cuma 1%. Kita bahkan tak tahu apa yang sedang kita alami selain tau bahwa kita sudah mati dan rasa penyesalan tentang sedikitnya amalan ketika hidup begitu menggunung dan sudah terlambat. Kita tahu kita tak lagi bisa sholat, tak lagi bisa sadakah, tak lagi bisa berbuat baik apapun. Kita telah terkunci dengan bekal sedikit, kekuatiran pada ketentuan selanjutnya. Kita bener2 mengkuatirkan diri kita sendiri..bukan anak, istri, suami atau orang tua. Bukan!.

Kadang saya bertanya, untuk apa perjalanan panjang ini harus ditempuh manusia? Untuk apa penciptaan ini? Cuma untuk kesenanganNya? Ke AkuanNya? 

Walahuallam bi sawab…. Saya hanya seorang hamba yang mencintaiNya dengan segala ketidakmengertian dalam keterbatasan manusia.

Thing is not get easier

Surat Al A’la.

Ternyata dalam surat Al A’la Allah telah memberitahukan bahwa Dia tak akan membuat situasi menjadi lebih mudah seperti yang kita mau, tapi Allah menjamin kita mudah menjalani semua ujian jika kita memang bermunajat untuk itu. 


Pantas saja…

Jika kita mendekatkan diri padaNya, memohon diberi jalan keluar atas masalah2, seringkali memang nothin happen, tak ada perubahan satu derajatpun! Tapi kita diberi kemampuan menjalani masalah tersebut dengan lebih mudah secara fisik dan mental. Semakin kita mendekatiNya, bahkan ada kemungkinan masalah menjadi semakin berat tetapi kita tetap diberi kemudahan menjalaninya. Jangan kau pikir ketenanganmu itu bukan sebuah ” pemberian” . Itu hadiah akan rasa percayamu padaNya bahwa Dia akan selalu didekatmu, membimbingmu dan membantumu melewati semua.

Kadang kita terlalu fokus pada keinginan ego kita sendiri dan lupa bahwa kita butuh pembersihan jiwa dan ruh apabila menghendakiNya. Kesucian tak pernah bisa menyatu dengan nafsu dan segala peri kesetanan dan peri kebinatangan. Itu sebabnya kita dibersihkan… 

Bicara

“Berenti bicara politik” Begitu saran beberapa kawan senior ketika di SMA dan saran kawan2 lain, lalu terakhir, masuk saran ibu saya bernada serupa. “Demi keselamatanmu” sambung mereka. Wut???

How? Bagaimana saya bisa berhenti melihat kesalahan dan kebodohan? Bagaimana saya bisa berhenti melihat panah2 fitnah diarahkan pada orang2 yang baik dan benar? Bagaimana saya bisa berhenti melihat masa depan anak cucu saya jika ditangan pemimpin yang salah? 

Oh ya, saya memang tidak dibayar. Ini cuma tanggung-jawab moral dari ilmu yang saya punya, pengetahuan yang saya miliki. Jika dari yang saya telah diberiNya itu saya bisa membalikkan satu pemikiran “ragu ragu” menjadi “pasti” saja..atau membenarkan yang salah dari satu kepalaa saja, itu sudah sesuatu untuk saya. Atau paling tidak saya membantu saling menguatkan dan berbagi informasi benar sesama teman semisi saja, itu sesuatu buat saya. 

Saya, kami tak dibayar memang tapi yang sedang kami amankan itu adalah masa depan anak cucu kami sendiri, bukan siapa siapa. Saya, kami juga bukan sok pejuang bukan pula sok pahlawan tapi hari gini medsos itu salah satu ujung tombak penyebaran informasi era digital. Hidup seseorang bisa berakhir atau cemerlang lewat medsos demikian pula urusan politik. Jadi kalau arus informasi yang cepat tanpa henti selama 24 jam itu dimonopoli berita2 tak benar, profokasi dan fitnah, mau jadi apa negeri ini? Tentu saja harus kami imbangi semampu kami sekuat yang kami bisa. Ibarat orang nelen racun satu sendok teh, harus dinetralisir dengan air berember-ember supaya bersih!

Berawal dari medsos lalu mulut ke mulut didunia nyata. Sungguh berbahaya kalau yang dibaca berita fitnah tiada henti atau info info bermuatan negatif yang tiada henti.

Saya tak mau berhenti “bicara” sebelum saya mati.