“Berenti bicara politik” Begitu saran beberapa kawan senior ketika di SMA dan saran kawan2 lain, lalu terakhir, masuk saran ibu saya bernada serupa. “Demi keselamatanmu” sambung mereka. Wut???

How? Bagaimana saya bisa berhenti melihat kesalahan dan kebodohan? Bagaimana saya bisa berhenti melihat panah2 fitnah diarahkan pada orang2 yang baik dan benar? Bagaimana saya bisa berhenti melihat masa depan anak cucu saya jika ditangan pemimpin yang salah? 

Oh ya, saya memang tidak dibayar. Ini cuma tanggung-jawab moral dari ilmu yang saya punya, pengetahuan yang saya miliki. Jika dari yang saya telah diberiNya itu saya bisa membalikkan satu pemikiran “ragu ragu” menjadi “pasti” saja..atau membenarkan yang salah dari satu kepalaa saja, itu sudah sesuatu untuk saya. Atau paling tidak saya membantu saling menguatkan dan berbagi informasi benar sesama teman semisi saja, itu sesuatu buat saya. 

Saya, kami tak dibayar memang tapi yang sedang kami amankan itu adalah masa depan anak cucu kami sendiri, bukan siapa siapa. Saya, kami juga bukan sok pejuang bukan pula sok pahlawan tapi hari gini medsos itu salah satu ujung tombak penyebaran informasi era digital. Hidup seseorang bisa berakhir atau cemerlang lewat medsos demikian pula urusan politik. Jadi kalau arus informasi yang cepat tanpa henti selama 24 jam itu dimonopoli berita2 tak benar, profokasi dan fitnah, mau jadi apa negeri ini? Tentu saja harus kami imbangi semampu kami sekuat yang kami bisa. Ibarat orang nelen racun satu sendok teh, harus dinetralisir dengan air berember-ember supaya bersih!

Berawal dari medsos lalu mulut ke mulut didunia nyata. Sungguh berbahaya kalau yang dibaca berita fitnah tiada henti atau info info bermuatan negatif yang tiada henti.

Saya tak mau berhenti “bicara” sebelum saya mati.

Advertisements