Saya itu punya kebiasaan, kalau ada yang mati, saya tracking semua jejak yang ditinggalkan alm. Melihat semua rekaman mereka, semua kenangan yang mereka tinggalkan dan semua tentang alm. Bahkan jenazahnya saya pandangi lama-lama. 

Selama saya melakukan itu pikiran saya menerawang kemana-mana.

God, hidup ini benar cuma main main meskipun bertujuan bak “saringan”. Tapi sungguh cuma main-main. Manusia bisa di”angkat” begitu saja. Begitu saja semau-mau Tuhan. Katanya sih soal kematian sudah jadi deal antara manusia dan Tuhan sebelum dilahirkan, tapi lalu dibuat lupa. Karena kalau manusia tahu kapan akan mati, bisa2 dia tak mampu menikmati kehidupan.

Begitulah saya memperhatikan tingkah polah si bakal jenazah sampai menjadi jenazah. Menyambungkannya pada kehidupan saya sendiri yang masih saya genggam entah sampai kapan. Rasanya sudah bukan saatnya berlebih-lebihan tertawa lagi karena usia terus maju. Kita harusnya takut, karena bekal hidup abadi masih belum cukup. Sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang dan tanpa bantuan siapapun kecuali amalan kita sendiri, sedang menunggu untuk dijalani. Kalau kita tak mati muda karena penyakit atau cilaka, kita pasti mati karena umur tua. Itu pasti.

Manusia harus selalu ingat mati, betapapun ingatan itu seperti pagar yang mencegah kita jatuh ke jurang yang dalam lalu mati sia sia.

Harta melimpah dan rumah megah bak istana Ratu Saba, benar2 ditinggal begitu saja, tak berarti tak bernilai kecuali harta yang dipakai di jalan Allah. Tak ada yang kita bawa dalam kubur berukuran 2 meteran itu. Tak ada kecuali kain kafan pembungkus daging yang bakal membusuk dimakan ulat. Kecantikan tak terbawa, keseksian tak terbawa, semua membusuk, bakal membusuk. Hak pakai itu telah usai…

Kalau benar rasa alam barzah itu seperti yang pernah saya mimpikan, maka jiwa kita selanjutnya hampa. Ingatan tersisa cuma 1%. Kita bahkan tak tahu apa yang sedang kita alami selain tau bahwa kita sudah mati dan rasa penyesalan tentang sedikitnya amalan ketika hidup begitu menggunung dan sudah terlambat. Kita tahu kita tak lagi bisa sholat, tak lagi bisa sadakah, tak lagi bisa berbuat baik apapun. Kita telah terkunci dengan bekal sedikit, kekuatiran pada ketentuan selanjutnya. Kita bener2 mengkuatirkan diri kita sendiri..bukan anak, istri, suami atau orang tua. Bukan!.

Kadang saya bertanya, untuk apa perjalanan panjang ini harus ditempuh manusia? Untuk apa penciptaan ini? Cuma untuk kesenanganNya? Ke AkuanNya? 

Walahuallam bi sawab…. Saya hanya seorang hamba yang mencintaiNya dengan segala ketidakmengertian dalam keterbatasan manusia.

Advertisements