Anak lelaki saya akhirnya memutuskan untuk melepas jurusan Ilmu komputer sistem informasi UI (yang belakangan menjadi jurusan naik daun), dan melepas juga jurusan geologi UGM, simply karena itu semua pilihan keduanya yang ternyata tak benar2 dia sukai. “Saya suka ilmu2 science murni yang tak ada bau bau ips-nya, saya cantumkan sebagai pilihan kedua karena iseng aja” begitu alasannya.

Pilihan pertamanya itu ITB stei dan Fisika UGM (tidak tembus dua duanya)…plus Sekolah Tinggi Nuklir. Yang belakangan ini dia coret dari daftar karena konon kabarnya tingkat radiasinya tinggi dan tingkat keamanannya tak memenuhi standar internasional meskipun dia diterima disana sebagai calon mahasiswa.

So whats the problem?

Sebagai orangtua yang banyak berharap pada anak lelaki pertamanya, tentu saja keputusannya melepas semua itu sangat menguji kesabaran. Sungguh sebagai ibu saya harus tabah menerima ujian sabar dari anak satu ini.

Disinilah saya belajar menekan keegoisan saya sebagai orangtua dan belajar setengah mati untuk menerima kepahitan dan megap megap mencari hikmah atas semua yang terjadi. Berjuta kali saya meyakinkan diri bahwa sebagai manusia kita tak bisa mengira ngira tentang makna dibalik sebuah kejadian. Saya meyakinkan diri bahwa saya tak tahu apapun tentang maksud semua ini.

Seolah olah seperti kufur nikmat, tapi walahuallam karena bisa saja ini ujian riya… Bisa saja ini ujian kesabaran… Bisa juga ini sebagai jawaban atas doa doa kami, no body knows…. Only Allah The Almighty. Begitu hebat Allah menguji beberapa orang sekaligus dalam satu kasus dengan efek yang berbeda-beda. Namun begitu sebagai seorang ibu, yang meskipun sangat kecewa dan mungkin jauh lebih kecewa dari keluarga yang lain, saya harus bersikap “membela” keputusan anak saya itu dengan segala ketenangan hati supaya menulari. Mencoba menghibur neneknya dan om nya dan tante2nya yang kecewa dengan keputusan anak itu.

Dilain pihak saya juga harus memaksa diri manjadi supporter untuk anak saya meskipun diri saya sendiri kesal luar biasa. Harapan dan kebanggaan saya terasa kandas begitu saja. Namun, pengalaman mengajarkan saya bahwa, memang bukan tempatnya berharap pada manusia karena manusia tempatnya khilaf dan dosa, manusia juga tak punya kekuatan apapun untuk mewujudkan harapannya sendiri apalagi harapan orang lain jikalau Tuhan tak menghendaki. Dan anak bukanlah milik kita, dia milik Allah. Kita hanya mengarahkan semampunya dan mendukung sebisanya, anaklah yang akan menjalani semua keputusannya, maka dukunglah dia supaya kuat menjalani keputusannya dan fokus pada keputusannya. Bukan malah dijatuhkan dan dihujat simply karena dia tak memenuhi harapan kita (bukan harapannya sendiri). Biarkan anak belajar memutuskan dan bertanggungjawab pada keputusannya sendiri. Bagaimanapun kelak kita akan mati dan meninggalkan mereka sendirian di dunia ini. Kapan lagi mereka belajar memutuskan? 

Maka sayapun berserah diri kepadaNya. Seperti pinta2 saya untuk selalu dikuatkan dan diberi iklas dalam menjalani takdirNya, maka doa saya itu alhamdulillah terkabul. Ada beberapa kali saya down sesaat, tapi itu saja. Allah membuat saya kembali berdiri tegak dan tersenyum. 

Orang harus menulari kebaikan untuk sekelilingnya. Dalam situasi senegatif apapun, seorang muslim harus bisa memberi aura positif. Menerangi sekelilingnya meskipun tubuhnya terbakar laksana lilin.

Ilmu sabar itu menguatkan jiwa, ilmu syukur itu membahagiakan hati, dan ilmu tawakal itu memberi keyakinan kuat membaja, sehingga sekeras apapun terpaan ujian mendera kita, harusnya kita tak bergeser seinchipun; tidak untuk menjadi lemah, tidak untuk menjadi jahat, tidak juga untuk menjadi seorang penghujat. Seharusnya….

Maka anak sayapun memutuskan untuk mencoba lagi tahun depan dengan kegigihan belajar gas poll 2x lipat daripada tahun kemaren supaya target pilihan pertamanya jebol atau pilihan lain adalah : mencoba bekerja dengan ijasah SMA nya, siapa tahu ada keberuntungan dari jalan situ, dan pilihan ketiga adalah: belajar otodidak seperti om nya yang meskipun begitu bisa berkarir menjadi programer handal tangan kanan bossnya si sebuah perusahaan besar milik Rusia. Anak saya sangat mengidolakan omnya itu.

Jadi..saya hanya berkata padanya: ibu mendukung apapun keputusan kamu dan mendoakan semoga keputusan kamu itu sudah sejalan dengan keinginanNya. Bagaimanapun ibu menghargai bagaimana kamu memutuskan untuk bermusyawarah dengan Allah (istikarah) dan dengan ibu. Itu saja sudah menjadi salah satu kunci sukses kamu. Semoga ini semua cuma sebagai warming up dan tahun depan adalah kemenangan yg sebenarnya… Aamiin

Advertisements