Saya pernah bermimpi melihat tangan Tuhan yg besar sedang memindah-mindah manusia atau mengangkatnya ke langit, seperti pemain catur sedang asik memindah biduk2 caturnya. Tapi saya bersembunyi. Saya takut dipindah atau diangkat ke langit. Saya tau Tuhan melihat saya, dan saya ketakutan. Tapi Tuhan tak lakukan apapun pada saya.

Jadilah saya berpikir: apa susahnya Dia membuka satu pintu untuk saya dagang sukses misalnya, entah pintu baking, ntah cooking, ntah crafting, karena saya berusaha disemua itu. Tapi saya merasa Dia tak hendak. Saya seperti kecoak dalam satu kardus yang semua bolongan “kesempatannya” ditutup. Lalu Dia menunggu reaksi saya untuk banyak tujuan yang walahuallam.

Apa susahnya tangan besar itu membuka satu pintu untuk si kecoak? Sama sekali tak susah. Tapi Dia tak lakukan. Ada beberapa pintu yang Dia buka namun bukan pintu yang dikehendaki kecoak. 

Kadang saya bertanya: apa susahnya? Masih kurang apakah saya? Kurang berdarah-darah? Kurang berat amalannya? Kurang apa? Saya merasa sedang dipanaskan supaya lebur memurni, tapi sampai kapan? 

Kalau berimbal surga saya iklas… Tapi nampaknya tak semudah ini. Namun semudah inipun saya merasa tak kuasa. Mengapa begitu berat bagi saya? Padahal begitu mudah bagi Dia untuk memudahkan? 

Saya menggaruk rambut tak gatal. Bersenandung pilu tentang jalan berliku tanpa ujung….

Advertisements