Archive for October, 2017


ISay NO to Racism

Saya bukan psikolog dan tak bisa memang mengambil kesimpulan rata-rata tentang apakah pendukung yang mendukung orang berbakat rasial, mengidap penyakit rasial juga?

Saya bukan tipe orang yang membedakan ini gelas majikan, ini gelas pembantu. Buat saya, selama pembantu itu sehat wal afiat, dia boleh memakai gelas majikan. Kalau makan di restauran, dia boleh semeja dengan majikan dengan menu pilihan sebebas majikan. Saya bukan tipe yang suka mengkotak-kotakkan manusia ntah karena dia lebih miskin, lebih bodoh, lebih hitam, lebih putih dll. Satu2nya pembedaan, yang pasti saya lakukan adalah apakah dia punya penyakit menular berbahaya atau tidak? sehingga perlu tindakan pencegahan, semisal membedakan gelas, membedakan kamar mandi dll yang tujuannya memang untuk menghindari bahaya.

Disadari atau tidak, semua manusia memang berpotensi menjadi rasial meski kadarnya berbeda-beda.  Ada yang untuk urusan kemiskinan, dia menjadi sangat rasial, orang miskin jangan ditemani. Ada yang rasialnya di urusan agama, adapula di suku, atau ras atau bahkan gender. Ada yang tidak rasial sama sekali alias potensi rasialnya nol persen.

Nah orang2 yang rasialnya nol persen ini saya lihat cenderung bersatu dengan sesamanya, dan orang2 dengan bibit rasial lebih dari nol persen cenderung membentuk kelompok sendiri. Maka ketika muncul figur pemimpin dengan bibit rasial yang sama dengan mereka, ya pasti mereka sukai dan mereka dukung. Sementara yang kadar rasialnya nol persen cenderung tak menyukai figur rasial dan lebih condong mendukung figur yang nol persen rasial. Apakah teori saya ini benar? ntahlah… tolong buktkan secara keilmuan.

Jika teori saya ini benar, maka saya menjadi tahu siapa-siapa sajakah orang2 disekitar saya yang ternyata mengandung penyakit rasial. Kawan2 yang nampaknya baik hati dan tanpa cacat cela, apabila mendukung manusia rasis, berarti dirinya sendiri mengandung bibit rasis yang sama???

Padahal di agama saya, Islam, kita tak boleh memberi celah sedikitpun untuk rasis feeeling itu muncul, apapun alasannya; ntah agama, ntah gender, ntah kekayaan, ntah suku, ras, dll. Jangan pernah membiarkan diri kita menjadi begitu jahat dengan cara rasis. Bagaimanapun manusia itu sama, diciptakan oleh Tuhan, warna kulit, gender, suku, strata, bisa berbeda karena tampak dari luar, tapi ruh kita semua sama!! bahkan tengkorak kita sama!!! yang membedakan manusia menurut Rasulullah adalah tingkat keimanan, dan perbuatan baiknya. Itu!

 

Advertisements

Siapa kamu?

Siapa kamu yang merasa bisa memiliki yang bukan milikmu? Siapa kamu yang merasa menguasai raga dan jiwa yang bukan milikmu? siapa kamu yang berpikir bahwa kehidupan berpusat padamu? siapa kamu yang mengharuskan orang bersyukur kepadamu? siapa kamu yang merasa sebagai sumber kebenaran? siapa kamu yang begitu yakin bahwa cinta itu abadi?

Kamu sebenarnya bukan siapa siapa…. sama baunya, sama busuknya sama bodohnya, sama tak abadinya, kamu bukan siapa siapa….

Tak ada yang perlu kamu sombongkan, pun tak ada yang perlu kamu banggakan. Karena kamu itu tak ada apa apanya, hanya seonggok daging, segumpal otak dan 70% cairan. Kalau kamu tumbuhan, kamu itu ketimun! Tak ada yang bisa kamu sombongkan sama sekali. Kemurahan hati Allahlah yang membuatmu jadi manusia sehingga orang melihat padamu. Tapi kesombongan telah membuatmu tak dilihat siapa siapa lagi…karena aslinya kamu memang bukan siapa siapa.

Jauh jauhlah kamu… sejauh jauh kamu bisa…..

 

Bahagia itu…

Dari kejadian ustad Nouman, saya semacam, sekali lagi, diberi gambaran bahwa, bahkan manusia yg sangat berilmu quran pun tak lepas dari dosa, tak lepas dari masalah. Jangan minder. Yang ilmunya tinggi saja bisa slip, apalagi yg tak berilmu seperti saya? Bukan slip lagi tapi jatuh terbanting-banting dedel duwel. Tapi persamaannya ada. Sama sama berbuat salah, tapi juga sama sama diberi kesempatan untuk bertobat, untuk perbaikan, minta ampunanNya… 

Saya pernah berpikir bahwa kepintaran bisa menjamin kebahagiaan, ternyata saya salah. Saya pernah berpikir bahwa kealiman bisa menjamin kebahagiaan, ternyata saya salah lagi. Cuma dua teori itu saja yang dulu sangat saya yakini benar, ternyata salah. Ternyata tak ada apapun yang bisa menjamin kehidupan kita akan baik baik saja, tidak kepintaran, tidak kealiman, tidak kekayaan. Bahkan seorang rasulpun tak mendapatkan jaminan bahwa hidupnya akan baik baik saja, padahal sudah tingkat kekasiNya! Hidup mereka malah cenderung terus menderita… 

Tapi apakah benar penderitaan fisik duniawi itu adalah penderitaan? Bukankah Allah selalu mencintai dengan cara menguji? Lalu semua teori2 saya tentang kepintaran, keimanan, kealiman bisa menjamin kebahagiaan gugur….. 

Bahagia itu adalah dicintai Allah… Dan cinta Allah itu tak selalu datang dalam bentuk kenikmatan duniawi seperti angan2 saya yang selalu bablas. Cinta Allah itulah harusnya kebahagiaan kita karena kita tahu kita dicintaiNya dengan kiriman ujianNya yang bertubi-tubi.

Ya Allah…. 

Nouman Skandal

Secara gak sengaja saya akhirnya tahu bahwa pendakwah fave saya sedang menghadapi masalah hidup yang cukup berat, dan komunitas bersikap terlalu berlebihan terhadapnya.

Buat saya, jasanya sebagai pendakwah kaliber kelas dunia yang membuat quran menjadi sangat indah artinya, membuat saya mampu melihat sejarah islam yang bersahaja, damai dan penuh kasih jauuuuh lebih berarti ketimbang apa yang dituduhkan padanya.

Look, manusia itu tempatnya dosa. Tak ada manusia suci di bumi ini, not even a saint! Manusia memang diciptakan seperti itu, agar dia bisa membandingkan salah dan benar. So begitu juga dengan Pak Nouman. Really, I dont care about his personal life, I care about his knowledge ! Itu yg penting!. Urusan pribadi beliau adalah urusannya dengan Sang Khalik, tapi urusannya dengan saya adalah berbagi ilmunya yang luar biasa itu!

Saya sangat…sangat berharap beliau bisa segera keluar dari masalah yang mencoreng nama baiknya ini, semoga Allah berkenan memberi bantuan dan membersihkan kembali namanya. Aamiin. Sehingga saya bisa kembali menikmati keindahan tafsir quran melalui ilmunya, aamiin aamiin

https://muslimmatters.org/2017/09/24/navigating-the-nouman-ali-khan-scandal/