Rina Nose, artis, melepas jilbabnya. Saya biasa saja. Buat saya manusia itu dinamis, selalu berproses. Begitu juga si Rina. Dia mau buka tutup jilbabnya sampai 100x pun biarkan saja. Finalnya cuma saat kematian, seperti apakah mati kita nantinya? Apakah dalam keimanan islam? Atau tidak? Sebab konon tersiar kabar Rina lebih suka menjadi agnostik darpada muslim. 

Teman saya yang ikut tertarik menjadi agnostik lalu bilang : “Rasanya, gw juga pengen menjadi agnostik” 

” Semua bebas memilih mau percaya pada apa. Dan gw bukan tuhan yang bilang ini salah itu benar atau elu salah, gw benar. Bisa saja meski agnostik, lu juga masuk surga. Who knows? Pelacur yang menolong kucing haus saja bisa masuk surga ” kata saya. 

Temen saya nyambung , ” Gw kecewa melihat islam sekarang “. “Muslim segolongan kali, bukan islam” sela saya. ” Rasanya, bukan islam yg rahmatan, islam ngaco!!” Lanjutnya. Saya jawab, ” Elu jangan melihat yang ignorant, jelaslah lu ga suka dan gak bakal suka. Lihatlah yg sebenarnya, yang adem, damai, penuh kasih dan maaf. Masih ada banyak muslim seperti itu. Saking indahnya ilmu dia, siapapun yang curhat atau ngobrol agama dengan dia akan merasa tenang, damai, bersyukur, ingat Allah, lebih sabar dan penuh kasih ke sesama. Itu “kutukan” org baik, selalu menenangkan sekitarnya”

“Tapi orang seperti itu udah sedikit “. Katanya. “Akan semakin sedikit nanti. Akhir jaman nanti akan lebih banyak ignoran muslim, yg bener akan jauh lebih sedikit dan jadi aneh dimata para ignorant. Tapi, elu harus kuat iman. Jangan lari dari islam hanya gara2 kecewa itupun karena melihat ignorant muslim. Look… Gini aja. Kalo lu mau agnostik, itu hak lu. Gw sih mau jadi umat Rasulullah saja”

Saya lanjut, ” Andai para atheis or agnostik itu benar, artinya sesudah mati hanya akan ada reinkarnasi. Elu, gw lahir lagi jadi pintu, atau kucing atau sapi ntahlah. Alhamdulillah cuma gitu doang. Tapi…bagaimana kalau agama yg benar? Bagaimana kalau hari penghisaban di padang masyar yg makan waktu 300thn dengan posisi matahari serasa sejengkal diatas kepala, haus luar biasa dan muslim mengandalkan safaat Rasulullah, benar2 terjadi? bagaimana? Apa elu mau minta remedial balik lagi ke bumi? Padahal udh ga ada siaran ulangan? Bagaimana kalau benar ada siksa kubur dan 3 pertanyaan malaikat penjaga kubur? Bisa lu jawab gak? Bagaimana kalau benar ada masa kegelapan? Yg mana faith lu, iman lu selama di dunia akan jadi senter di jaman itu nanti? Gimana lu bisa lihat jalan kalau lu atheis agnostik? Tak ada iman? Gelap?! Gimana kalau benar ada sirotol mustakim? Gimana kalau benar ada surga dan neraka??? Lu bego banget kalau lu ga ambil jalan aman! Reinkarnasi terlalu mudah untuk dipertaruhkan dengan faith pada hari pembalasan, 1 banding 1 juta milyar itu!!! Kalau gw sih cari aman aja, jadi umat Rasulullah dan in shaa Allah gue gak keberatan dengan aturan do dan dont nya islam. In shaa allah gw berdoa mati khusnul kotimah sebagai umat rasulullah gitu juga anak anak gw. Gw fait hard pada hari pembalasan dan berharap safaat rasul, berharap surgaNya, meski gw cuma butiran debu… Amalan dikit ibadah dikit tapi in shaa allah gw ga goyah” 

Teman saya memberi ‘jempol’ lalu bilang ,” Gw mau pelajari semua agama. Islam akan gw pelajari lebih dalam”. “Silahkan …” Kata saya melanjutkan lagi “Jangan lupa selalu basmallah dan niatkan mencari kebenaran, minta bimbinganNya. In shaa allah…”

Advertisements