Category: Life


Saddy Day

“Setiap yang hidup akan merasakan kematian”

Today, kematian itu menjemput kucing kesayangan anak2. Ketika mereka pulang sekolah dan seperti biasa memanggil nama kucingnya dengan kerinduan yang penuh, saya harus berdiri di depan mereka dan mengabarkan berita kematian itu.

Jangan pikir ini masalah kecil hanya karena yang mati hanyalah seekor kucing peliharaan. Ini menjadi masalah besar karena kucing itu membangkitkan cinta, kasih sayang dan rindu di dada anak2. Melatih rasa tanggung jawab mereka, dan mengajarkan mereka banyak hal tentang ‘amanah’. Kucing itu juga mahluk ciptaanNYA yang sempat membawa keceriaan di wajah anak2 selama berhari-hari.

Buat saya…. ini sebuah kehilangan besar.

Belajar dari pengalaman saya sendiri, saya sudah memperingatkan anak2, bahwa mencintai mahluk yang tak abadi, akan meninggalkan ‘luka hati’ yang sangat menyakitkan kalau ketidakabadian menjejakkan sumpahnya pada jiwa yang hidup.

Sekarang mereka belajar kehilangan dari sebuah kematian. Air mata mereka membekaskan rasa yang seumur hidup akan selalu mereka ingat. Mereka belajar tentang ketidakabadian, dan betapa rapuhnya menggantung cinta pada yang tak abadi.

Keabadian itu hanya milikNYA…. gantungkan semua padaNYA supaya kecewa itu tak mencambukmu setiap saat, dan kesedihan tak menyakitimu berlarut-larut. DIA akan selalu ada untukmu…maka padaNYA lah sebaik-baik kau menggantungkan harapan dan cinta……

Anyone can love a rose, but it takes a great deal to love a leaf. It’s ordinary to love the beautiful, but it’s beautiful to love the ordinary.

Rip: kojak

Image32998

 

 

What hurts the most, isn’t what never belonged to us, but what was ours for a short time, and will be missing from us forever

The Black Magic

http://www.youtube.com/watch?v=nKuSnFcufkE

http://www.youtube.com/watch?v=GjXejUg0yaE

Pada suatu waktu yang lampau, adik ipar saya mengalami musibah sakit. Prasangka saya membawa saya pada hal yang disebut “Black Magic”.

Awalnya adik saya tak percaya soal satu ini. Yang dia percayai adalah semua musibah yang menimpanya adalah atas kehendakNYA.

Saya kira adik saya tak salah soal kehendakNYA, tapi bahwa “the unseen world” itu disebut-sebut dalam qur’an, dan mempercayai hal2 ghaib itu adalah sebagian dari iman, maka demikian pula halnya dengan black magic.

Wawancara di video ini menunjukkan pada kita kekuatan apa yang dimiliki manusia dan betapa lemahnya mahluk2 ghaib itu sebetulnya, dan bahwa benar mahluk2 ghaib yang disebut “JIN” itu bisa melukai manusia secara fisik.

Lalu bagaimana menghadapi jin2 jahat ini?

Watch the video…… 🙂

Emping dan Pelajarannya

Saya punya cerita yang tiba2 saya ingat karena barusan goreng emping 🙂

Jadi, waktu kapan hari ketika di kampung sana orangtua saya mau menggelar arisan yang akan didatangi sekitar 30 orang tamu, ibu saya menugaskan saya menggoreng emping.

Saya tak percaya diri soal menggoreng emping, ikan teri dan kacang! seringnya sih hasil gorengan saya itu nyaris gosong atau ‘gosong muda’ (saya menyebutnya begitu kalau tak sampai gosong2 amat). Jadi saya bilang ke ibu saya bahwa saya tak mau goreng emping apalagi dalam jumlah banyak. Lha? emping kalau gosong kan pahit? Apalagi emping yang akan digoreng ini untuk banyak orang… dan emping special pulak oleh2 adik saya dari solo. Jadi saya tak mau rusak ditangan saya.

Adik saya juga tak ada yang berani goreng si emping. Satu2nya yang kami andalkan adalah si eceu (pembantu ibuku) konon kabarnya dia jago kalau soal goreng menggoreng. 

Emping se-toples besar pun akhirnya nangkring diatas meja. Aku mulai ‘mencemilinya’ :). Hmmm… pahit. Biasanya yang pahit itu gosong. Saya membolak balik emping ditangan saya yang warnanya saya perhatikan agak merah. Apa mungkin ini memang jenis emping pahit karena warnanya agak kemerahan? pikir saya. Tapi mungkin karena pahitnya itulah si emping kurang ‘laku’ dan masih bersisa banyak setelah acara selesai.

Singkat cerita saya membawa pulang kerumah saya sendiri emping mentah yang sama dengan yang digoreng si eceu sebagai oleh2 dari adik saya, dan baru sekarang saya sempat menggorengnya.

Lah? emping yang saya goreng warnanya putih dan tidak pahit!!! Duhaaaaaaiiii….. Jadi?  dengan yakin saya berani memastikan bahwa emping gorengan si eceu itu agak GOSONG!!. Pantesan warnanya memerah dan pahit pulak!!!

Oooooh boy!! Saya jadi garuk2 kepala yang tidak gatal. Kok bisa saya meragukan kemampuan saya sendiri dan mengandalkan orang lain yang belum tentu seperti prasangka kita? Emping hasil gorengan saya ternyata jauh lebih cantik dan enak.

Saya memang sering bablas goreng gosong yang bikin saya mencap diri saya tak layak goreng emping dalam jumlah banyak karena terlalu beresiko tapi pengalaman ‘gagal’ yang banyak sekalipun tak bisa menjamin satu ketidakberhasilan!!! Dan yang selalu berhasil tak bisa menjamin untuk tidak gagal sekali waktu!!!

Apa yang bisa saya dapat dari “pencermatan” masalah emping ini kemudian? 

Rasanya saya tahu 🙂 dan cukup saya saja yang tahu …..

Image

 

Ketempelan

Ini bukan cerita soal perangko yang nempel ke amplop… tapi cerita jin yang nempel ke manusia.

Alkisah, pada suatu hari, saya dan adik2 perempuan saya membawa anak2 kami piknik ke taman lalu lintas Bandung. Salah satu keponakan saya masih berumur 2 tahun kurang dan kabarnya, si kecil ini punya “kemampuan” melihat mahluk halus.

Selama ini saya tak ada masalah dengan si kecil. Bisa dibilang, gadis mungil yang baru jadi kurang dari dua tahun ini lengket dengan saya. Pergi ke taman lalu lintas kemarin itu, dia minta saya pangku bahkan menggelendot terus pada saya.

Singkat cerita kami tiba di tkp, menggelar makanan di tikar, dan makan dengan riangnya. Anak2 nampak suka cita. Sesudah makan mereka boleh memilih permainan apa saja yang disediakan di taman itu, lalu segera mereka menghilang menyerbu permainan2 yang banyak bertaburan di dalam area taman. Saya sendiri memutuskan duduk manis di tikar sambil main gadget plus jaga barang 🙂

Sesudah lama menunggu akhirnya semua berkumpul kembali dan kami memutuskan pulang atas kesepakatan bersama. Sejauh itu tak ada yang aneh…

Tapi ketika giliran saya menggandeng si kecil, tiba2 dia menjerit ketakutan dan menolak saya. Ponakan saya yang belum bisa banyak bicara itupun sembunyi dengan takutnya dibelakang bundanya. Dia sama sekali tak mau melihat saya, apalagi saya sentuh.

Bundanya who is adik saya bilang pada saya: ” Aku kuatir kau ketempelan jin. Cepat banyak2 baca ayat kursi dan 3 surah berawalan qul itu”. WHAT?? terus terang saya jadi “horor” sendiri. Gak pernah ngalami horor yang nempel langsung dengan badan saya soalnya. Dan saya mulai membaca ayat2 suci pengusir jin dan setan2 usil.

Ntah sudah berapa kali saya ulang membaca ayat2 Allah tapi si kecil masih “ngeri” saya dekati. Bahkan ketika di mobil, saya harus menenangkan dia setengah mati karena dia menjerit-jerit menangis tak mau saya pangku. Akhirnya kami memutuskan si kecil duduk di seat paling belakang dipangku kakak perempuannya. Dia pun nampak tenang disana; jauh dari saya. Saya??? saya benar2 merasa tak enak hati!!!

Sesampainya di rumah sudah saatnya duhur. Saya mengambil air wudhu dan dengan khidmat mengusap semua anggota2 tubuh saya berharap semoga jin yang , jika iya menempel pada saya, segera kabur jauh2.

Beberapa jam kemudian saya “uji coba” kembali mendekati si kecil. Awalnya dia melihat saya dengan ragu2, mimik wajahnya seperti men-screen saya sedemikian rupa. Saya sudah ngeri saja dia akan kembali kabur, tapi, alhamdulillah, tidak 😀

Malamnya adik saya menyarankan saya mendengarkan youtube “sepaket bacaan doa2 rukiyat”. Dengan senang hati saya melakukannya….

Saya bukan melebih-lebihkan atau mendramatisir keadaan, tapi kenyataannya memang saya merasa lebih tenang dan ringan setelah mendengar bacaan2 ayat suci selama 30 menit dari 60 menit paket rukiyat. Saya bahkan sempat terlelap dengan nyenyaknya sebelum kembali terbangun dan mendengarkan 3 surah berawalan ‘qul’ yang dibacakan paling akhir.

Adik saya bilang, mendengarkan ayat2 rukiyat memang membawa ketenangan dan membuat terlelap saking tenangnya.

Paginya leher saya terasa pegel2 :D. Semoga itu pertanda jin nya sudah hengkang karena “kepanasan”; aamiin. Tapi tak lalu berarti doa2 itu terhenti, mereka bisa dengan mudah datang kapan saja mereka mau dan hinggap semudah kupu2 menghinggapi bunga 😦

Sungguh pengalaman yang mengesalkan sekaligus menguatkan iman saya.

 

Image33262

Buku

Mungkin karena bapakku dan ibuku termasuk salah satu dari orang2 yang suka membaca buku, ntah sadar ntah tak sadar mereka menularkan kebiasaan itu pada kami anak2nya. Mungkin mereka merasa gak enak kalau hanya membaca berdua saja, jadilah kami dibelikan buku2 cerita yang sesuai dengan usia kanak2 kami saat itu.

Bapakku itu suka membelikan komik2 pewayangan dulu mungkin karena beliau memang suka wayang, dan pernah bercita-cita jadi dalang :D. Setiap keluar kota, oleh2 bapak bisa ditebak, buku2 cerita setumpuk, coklat berbatang-batang, dan kadang2 kalau uangnya agak banyak ada oleh2 baju juga. Tapi sumpah!! aku lebih suka dapat oleh2 buku cerita… dan bau buku baru itu : woooooow…. menarik sekali!!!. Kebiasaan baca buku sambil ngemil coklatpun terbawa sampai berpuluh-puluh tahun ke depan. Diakhir karirnya, sebelum pensiun, bapak mewariskan buku panduan tentang hal2 yang berkaitan dengan bidangnya untuk kantor tempatnya bekerja. Buku itu dia tulis sendiri dan menjadi buku pedoman di kantor itu sampai saat ini, diajarkan pada para calon2 pegawai yg diterima bekerja disana.

Ibuku juga doyan buku. Tapi lebih suka novel. Orang yang suka membaca, biasanya juga suka menulis. Jadi ibuku juga sesekali mengirim cerpen ke majalah2, waktu itu masih jamannya mesin tik. Aku ingat betul, saat ibu mengetik di meja kotak yang besar, aku dan adikku main rumah2an di kolong meja.. sambil sesekali memeluk kaki ibu, dan ibu akan teriak2 kegelian. Kadang2 beliau meminta kami membaca hasil ketikannya, tapi ..uhhhm tak ada gambar!! tak seperti komik!! jadi biasanya kami hanya mau membaca 1 pragraf pertama 😛

Tapi lama kelamaan harga buku menjadi mahal.  Suatu kali bapak memanggil kami: ” Di dekat kantor bapak ada penyewaan buku. Kalian mau bapak sewain buku2 bacaan?” Kami bersorak sorai kegirangan. Tentu saja kami mau sekali!! selama ini kami biasa meminjam buku2 bacaan dari teman karena gak kuat beli hahahahaha, jadi tawaran bapak seperti angin surga. Kami disuruh membuat daftar buku2 yang kami mau baca. ” Bapak sewanya tiap hari jumat saja ya.. jatah minjem seminggu, minggu depannya dibalikin lagi “. “Iyaaaaaaaaa” kami melonjak-lonjak senang.

Bapakku itu pegawai yang sangat jujur. Disaat teman2 sejawatnya hidup dengan kekayaan melimpah, bapak hidup bersahaja. Tak bisa belikan buku2 bacaan baru yang harganya mahal, bapak sewa buku untuk kami. Bapak memang hebat!!

Dan begitulah, tiap hari Jumat, ketika mendengar mobil bapak datang, kepala2 kami, aku dan adik2ku akan bertongolan dari balik jendela; ” Bapak sewa buku???”. Bapak lalu mengangkat tas keresek putih yang berisi buku seabrek-abrek. Dan kami berloncatan keluar menyambut bapak merebut tas plastik, membongkar isinya dengan sangat antusias dan mulai bergulingan di lantai rumah yang adem; membaca.

Lucunya, bapak gak pernah ngecek satu-satu buku2 yang beliau pinjam. Beliau tau aku suka baca novel horor, jadi kadang beliau memilihkan 4 novel bertemakan horor tanpa lebih dulu mengecek isinya. Hahahaha…. dan aku suka kalau dapat yang sedikit mesum :P. Meskipun semesum-mesum novel jaman itu ya paling2 cuma soal ciuman atau pegang2 hahahaha.

Kebiasaan membaca ini berlanjut sampai kami semua tumbuh remaja dan dewasa. Serunya lagi rumah kami selalu tak jauh dari kios2 tempat penyewaan buku2 cerita dan novel. Jadi kami sering bergilir untuk meminjam buku, uangnya juga patungan sisa dari uang jajan :D. Semakin besar, arah membacanya semakin jelas, kami tinggal menyebut pengarang2 favorit kami di list. jadi siapapun yang dapat giliran menyewa buku bebas mengambil buku apa saja yang ada disitu sepanjang pengarangnya adalah pengarang yang dimaksud.

Dari kebiasaan membaca ini nilai pelajaran Bahasa Indonesiaku selalu dapat A (kecuali soal penggunaan tanda2 baca hahahahaha). Waktu SMA, aku ditunjuk sebagai pengurus Majalah Dinding Sekolah karena kebiasaanku menulis cerpen untuk mading :D. Waktu kuliah, dosen bahasa Indonesiaku sangat mengenalku karena aku pernah dapat A seorang diri dikelasku, uhm… aku ingat itu pelajaran mengarang :D.

Adikku yang nomor dua berhasil menjadi programer hanya dengan cara belajar otodidak. Karena bermasalah dengan dosen arsitekturnya, diam2 adikku memutuskan memperdalam ilmu tehnik informatikanya dengan cara belajar sendiri di kamarnya yang kecil. Tak kuat beli buku2 baru yang tebalnya sebantal-bantal, dia berburu buku2 second atau meminjam buku2 seniornya. Diam2 dia baca habis buku2 selemari itu dan praktekkan ilmunya. Walhasil? dia lulus otodidak sebagai programer dan kesahannya tidak dinisbatkan melalui gelar kesarjanaan melainkan dengan menjadi staff ahli di perusahaan milik Australia dan Perancis. Itu bukti kekuatan ” gemar membaca” juga 😀

Adikku yang bungsu malah menjadi penulis cerita anak2 di koran daerah Bandung selama beberapa waktu. Pekerjaan sambilan yang bisa menuhin ‘saku’ nya sambil dia memperdalam ilmunya di jurusan jurnalis.

Semua ini cuma karena dari kebiasaan membaca.

Ingin kutularkan kebiasaan ini pada anak2ku, tapi nampaknya sainganku cukup berat. Aku harus berkompetisi dengan banyaknya channel di televisi, dengan play station, game online atau dengan game console; tapi yang lebih parah lagi aku harus bersaing dengan harga buku2 cerita yang meroket, mengancam menguras dana belanja. Hufffttt…

Tapi aku tak berhenti berharap. Aku yakin kebiasaan orangtua tetap menjadi panutan anak2 baik mereka sadari atau tidak, aku ingin anak2 sepertiku… : suka membaca buku :). Paling tidak apapun yang mereka kerjakan mereka mengingat sering melihat ibunya menikmati kegiatan membaca. Itu saja cukuplah

e2fd9926f2d9083b8c72d4d429a8491e

Keajaiban2 Kecil

Keajaiban2 kecil itu ternyata berseliweran di sekitar kita kalau kita mau sedikit memberi ‘perhatian’, dan ini terjadi pada saya di hari ke 5 ramadan kareem 🙂

Sebisa-bisa saya, saya ingin menjadi “penjual” secara Islam atau dagang secara Islam. Dan karena bidang saya adalah membuat kue, sebisa mungkin bahan2 yang saya pakai berlabel halal, dan sebisa mungkin timbangannyapun pas sesuai dengan yang “dipromokan”.

Jadi begitulah, ceritanya setiapkali saya harus memenuhi toples dengan kukis lebaran, saya merasa tegang. Yup tegang. Kalau isi toples kurang 1 biji kukis saja, maka isinya tak terlihat padat, penuh dan rapat. Mau saya, kukis yang saya jual itu, yang saya packing di dalam toples 1/2 kiloan, ya harus mencapai berat 1/2 kilo itu (kecuali kukis yang ringan seperti kukis sagu). Nah biasanya untuk mencapai timbangan yang sesuai dengan toples (1/2 kilo) kukis harus ditata rapat jadi yang masuk bisa banyak. (Orang dagang boleh2 saja melakukan apa yang mereka mau selama yang beli tidak merasa keberatan, seperti pakai cup2 kertas sehingga kepadatan toples berkurang, atau memakai toples yang bentuknya cekung dibagian dasarnya sehingga kukis terlihat penuh tapi otomatis timbangannya berkurang), tapi saya tak suka melakukan itu.

Kemarin saya membuat kukis keju. Seperti biasa, saya menatanya dengan tegang. Dan, JLEB, leganya ketika kukis terakhir masuk di toples kedua, dengan posisi pas!!! Dua toples penuh, kukis rapat, timbangan pas! tak tersisa satupun kukis untuk saya icipin 😛

Lalu saya bilang pada yang pesan: semoga kukis2 yg saya buat sesuai resep bisa berkenan rasanya, karena saya tak bisa ikut nyicipin :). Satu resep kukis keju misalnya, hasilnya pas menuhin 2 toples 1/2 kiloan tanpa sisa satu biji pun!!!

Meskipun demikian saya sebetulnya sedih kalau tak bisa nyicipin, karena saya kan harus tau rasa kukis yang saya jual itu. Apa keasinan? apa kurang matang? apa kurang manis? dan lain2. Meskipun ngikutin resep, tapi kadang2 hasilnya bisa berbeda-beda.

Jadilah tadi malam, saya berdoa sungguh2 supaya kukis keju yang akan saya buat lagi hari ini bisa bersisa satu butirrr saja untuk saya cicipin. Saya pun menggantungkan harapan padaNYA 🙂

Resep yang saya pakai masih resep yang sama dengan kukis keju kemarinnya. Ukuran dan takaran semuanya sama. Bahkan bentuk dan susunan di tray nya pun sama dengan yang kemarin. Saya membatin dalam hati : sepertinya tak akan ada sisa kukis lagi untuk saya icipin hari ini. Jangan2 malah kurang 1 atau 3 butir. Sigh 😦

Tibalah acara yang di tunggu2: ngisi toples, dan seperti biasa: tegang. Saya ngeri kukis berkurang 3 biji 😦 . Tapi apa yang terjadi kemudian?, saya sudah memenuhi 2 toples 1/2 kiloan dan ada 9 butir kukis keju yang tersisa di tray!!! HAH? saya amati toples2 yang sudah penuh itu ; mencari celah2 yang mungkin terlewat oleh saya sehingga menjadi longgar. Tapi meski saya berusaha menjejalkan sisa kukis2 itu, saya tak bisa;  dua toples itu sungguh2 telah penuh!! dan padat!! saya tak bisa menambahkan apapun lagi bahkan walau cuma 1/2 potel kukis keju!! SubhanAllah!

Saya duduk dengan perasaan lega memandang 9 butir kukis keju cantik yang telah dipersiapkanNYA untuk saya cicipi :). Bagaimana mungkin dengan ukuran yang sama, saya bisa mendapatkan lebih 9 butir seperti itu? Paling tidak 1 saja harusnya :D, tapi saya dapat 9 kukis. Alhamdulillah.

Keajaiban2 kecil seperti ini saya yakin selalu DIA berikan pada kita, hanya saja kita sering tak peduli atau memang tak peka. Kita terlalu sibuk meminta dan tak pernah sadar bahwa tanpa kita mintapun DIA telah banyak  memberi  jauh lebih baik dari yang kita minta itu sendiri.

Belajar sesuatu dari kejadian kecil ini….

6184ddcbc26c30ccd6845d49bac90319

 

 

Oven Tangkring Itupun Nangkring

Oven besar saya pecah berkeping, jadi saya tak berkutik. My fault; salah saya memang. Tapi juga itu ‘takdir’ yang kalau memang kaca itu harus pecah, dia akan pecah apapun yang terjadi. Yang pasti saya tak bisa menyalurkan hobby saya: membuat kue. Oh tentu saya punya banyak cara dan banyak resep membuat kue2 tanpa menggunakan oven, tapi tetap saja gak sreg 😦

Saya berpikir pikir untuk beli oven tangkring. Oven buatan lokal yang dipakai orang kita untuk bikin 1 loyang kue saja, masak kukispun cuma bisa masuk 2 tray, tak seperti oven besar saya yang bisa memuat 8 tray sekali panggang. Tapi saya  bersikukuh tak membeli oven kecil ini, padahal para pelanggan setia saya bolak balik ingin pesan ini itu ini itu.. tapi tidak saya layani karena ovennya tak ada.

Sampai tiba waktu ramadan ini , sungguh bulan penuh berkah yang tak pernah diduga-duga. Adik saya siap memodali saya bisnis kue kering (ini kan menjelang lebaran). Itupun saya masih ragu2. Saya hanya tak suka mengeluarkan banyak uang yang kelak tak barakallah. Toh saya tetap ragu2 meskipun dana sudah ditangan. Saya bilang pada adik saya: kalau tak jadi, ambil lagi semua modalnya ya. Dia mengiyakan ; “santai saja… manusia berencana, Tuhan menentukan… ” katanya santai.

Dan lagi2 dalam keraguan dan ketidaktahuan saya, saya hanya bisa berikhtiar. Maka pergilah saya ke toko yang menjual oven. Oven tangkring yang sering saya lihat dan saya pegang2 itu masih nangkring disalah satu rak di toko itu. Sampai disitu sajapun saya masih ragu2. ” Oven yang lain masih ada gak?” tanya saya pada pelayan toko. Dia bilang oven sold out, tinggal itu satu2nya yang tersisa. Sontak saya bilang bahwa oven yang tinggal satu itu saya beli!!! Saya tak tau… mungkin kalau stok oven saat itu masih banyak, saya malah malas membelinya. Tapi berhubung tinggal 1 dan saya tak tau kapan saya punya kesempatan lagi, maka keputusan itupun mencuat dari mulut saya; saya beli!

Oven itu sudah di dapur saya, menjadi anggota baru dari sekian perlengkapan baking saya. Saya sungguh tak menyesal membelinya… insyaa Allah diapun akan menjadi barkah buat saya. Saya berharap dari si oven tangkring ini saya bisa mengumpulkan dana sedikit demi sedikit untuk mengganti kaca pecah oven besar saya.

Saya semakin yakin bahwa DIA selalu berada dibalik semua keputusan dan niat yang benar. Saya tak mau lagi pusing2 memikirkan hal2 yang diluar kekuasaan saya. Saya hanya bisa ikhtiar maka saya akan ikhtiar.. dan selama niat saya benar, saya yakin DIA akan memutuskan yang terbaik buat saya.

Saya merasa DIA ‘menghukum’ saya atas kesalahan saya dengan ‘memecahkan’ kaca oven saya, tapi DIA juga mengerti betapa saya kemudian sangat merasa kehilangan oven dan sedih dan menyesali kesalahan itu. DIA tau apa yang saya inginkan. DIA tau apa yang saya butuhkan dan DIA mengabulkan semuanya dengan cara yang tak saya duga2. Alhamdulillah…

Kaca yang pecah itu memang belum DIA ganti, tapi saya yakin lambat laun oven besar itu akan DIA sempurnakan seperti semula. Semua tergantung saya 🙂

 

Image

Kanak

Tadi, waktu mengantar anak saya ke sekolah barunya, dan kami harus berjalan kaki melewati perumahan penduduk, saya melihat dua anak lelaki kecil memegang remote mobil2an; masing2 memegang satu remote. Anak yang badannya paling kecil, beringus dan ingusnya dibiarkan meleleh melewati mulutnya; kotor dan dekil tapi suaranya paling lantang dari pada anak yang satu lagi yang agak lebih besar dan agak lebih bersih juga.

Dari kejauhan mata saya sudah mencari-cari mana mobil remote mereka?. Dari teriakan2 anak kecil ingusan itu, kelihatannya seru sekali mereka bermain mobilannya. Tangannya juga sibuk mencet2.remote ” Yak lewat situ… belok kiri.. awas jangan dekat2 aku nanti kamu aku tabrak lo, kamu ke arah sana aja, katanya mau ke toko..” Begitu celotehnya dan mata saya terus mencari-cari : mana mobilnya? harusnya tak jauh2 dari tempat mereka duduk bersisihan kan? tapi tak ada.

Sampai di depan mereka saya sempatkan berhenti. Anak saya sampek geleng2 kepala melihat saya yang penasaran sangat; dia sendiri meneruskan langkahnya sementara saya masih mencari-cari: dimana sih mobil mereka itu?.

” Mobilannya mana tuh?” tanya saya, tak niat, pada dua anak itu lalu mencari-cari di sekitar mereka. Anak yang beringus melihat pada saya dengan heran, dan saya melihat pada dia tak kalah heran. Ternyata mobil2an mereka tak ada sama sekali!! Mereka hanya punya remote nya saja!!.

Saya tersenyum geli sendiri menyadari betapa asiknya anak2 ini bermain dengan, ternyata,  imajinasinya. Imajinasi semacam inilah yang bisa membuat manusia terlatih untuk menjadi kreatif.

Give the children toys that are powered by their imagination, not by batteries (Joe Kopler)

Image

Sup Jagung Gemini

Saya tak bicara soal bintang saya yang gemini dan bintang adik perempuan saya yang libra. Tapi kejadian kemarin itu membuat saya senyum2 sendiri karena membuktikan karakter kami berdua ‘sesuai’ zodiak2 kami masing2.

Saya dan dia pernah sama2 membuat sup krim jagung dan susunya ‘pecah’. Sehingga sup krim jagung kami jadi jelek penampilannya meskipun rasanya tetap nyusss. Kami akan membuatnya lagi, tapi adik saya bilang : “Belajar dari pengalaman, sebaiknya kita tak menggunakan susu supaya sup krim tak pecah seperti kapan hari. Atau kalau mau, pakai taktik ibu kita; matikan api, lalu masukkan susu”.

Saya bilang: ” Tapi aku pernah bikin sup krim sukses, tanpa mengecilkan api, dan tetap menggunakan susu. Aku harus cari tau bagaimana caranya supaya aku bisa membuat seperti itu karena aku lupa caranya. Aku tak mau matikan api. Nanti kalau susu dimasukkan setelah api dimatikan lalu sup nya jadi lebih encer gimana? aku tak bisa mengentalkannya lagi kan?”

Kami berdebat cukup lama dan adik saya itu kelihatan kesal sekali dengan “ngeyel”nya saya yang tetap “ambil resiko” sup krim pecah lagi karena saya bersikukuh tetap memakai susu dan “mencoba trik baru” supaya susu tak pecah seperti dulu. Adik saya pikir, saya hanya buang2 waktu dan tak mau belajar dari pengalaman sendiri atau dari pengalaman ibu kami. sementara saya pikir: mumpung saya sedang mau bikin sup krim, jadi saya ingin bereksperimen teknik baru  membuat sup krim bebas dari ‘pecah susu’. Kapan lagi kalau tak sekarang? dan saya sangat siap dengan resiko gagal!!!

Dan begitulah; dengan santai saya melakukan tahap demi tahap sampai pada tahap harus memasukkan susu cair, tiba2 adik saya menahan saya dan mengambil mangkuk, “Tunggu,  aku mau minta semangkuk. Aku tak kuasa melihat sup yg cantik ini tiba2 dihiasi susu pecah”. Saya tersenyum sambil menyuruhnya memenuhi mangkuk kecilnya.

Dengan lega, adik saya bilang “Oke, boleh masukin susunya”. wajahnya nampak sudah siap melihat “kegagalan” saya yg kedua :D.

Saya mengecilkan api. Menunggu beberapa saat… dan berdoa “bismillah” kemudian susu cair saya masukkan pelan2 ..terus…terus…terus…. sambil mengaduk. Sudah 500 cc masuk susunya dan belum terlihat tanda2 “susu pecah”. Adik saya menunggu, saya menunggu. Kami diam: tegang. Saya membesarkan api , adik saya melotot lebih tegang. Lalu karena sup agak cair, saya malah menambahkan tepung terigu lagi untuk membuatnya lebih kental.

Tak ada tanda2 gagal. Sup mulus tanpa cela sampai kembali mendidih dan saya akhirnya mematikan api karena sudah matang dan siap disantap.

Adik saya tersenyum lega dan menjabat tangan saya ” Selamat!!! Anda berhasil!!! Dan aku jadi nyesal ngambil semangkuk itu karena sup jagung selalu lebih lezat kalau pakai campuran susu”

Saya cuma tersenyum dengan perasaan lega. Curiousity saya terjawab sudah dan saya menjadi tahu bagaimana membuat sup krim jagung mulus tanpa susu pecah!

Saya pikir, kalau saya mengikuti karakter adik saya yang banyak pertimbangan itu pada saat2 seperti ini…. saya tak mendapatkan sup krim jagung lezat dan trik baru membuat sup krim smooth :D. Dan pada saat2 seperti kasus ini, sikap adik saya yang ragu2 malah seperti “booster” yang membuat saya semakin nekat memenuhi rasa penasaran saya.

Saya tak tahu dimana cocoknya libra dan gemini… tapi kenekatan gemini kadang2 ‘ternyata’ diperlukan untuk menghasilkan “sesuatu yang baru” ntah itu merugikan atau menguntungkan. Dan libra banyak memberi sumbangan pertimbangan dan booster meskipun tetap tak punya kuasa untuk “mencegah”. 😀

ImageLa

Salah!

Ini soal ‘salah pengertian’ yang super zuper menyebalkan dan membencikan sekali. 

Banyak sekali disekitar kita orang-orang yang sangat mampu mengartikan salah apa yang kita ucapkan. Mungkin karena intonasi? mungkin karena tulisan? mungkin karena mood yang sedang eror? atau apa? ntahlah tapi yang jelas, mereka salah menangkap apa yang keluar dari kepala kita dan masuk ke kepala. Dan kita sebagai penyampai maksud yang kemudian mendapat serangan balik diluar apa yang kita pikirkan tentu saja nafsu angkara. Dan kalau sudah nafsu egolah yang berbicara. 

Seperti kejadian pagi ini dengan pembantu saya. Dari awal saya sudah mendengar betapa kasar dia memperlakukan barang2 saya ketika sedang mencucinya di sink. Sejauh ini saya tipe orang yang selalu menahan diri untuk tidak jadi majikan rewel. Lalu tiba2 saya mendengar salah satu komponen prosesor saya jatuh; meleset dari penganggan tangannya yang penuh sabun. Saya berusaha menekan sedalam mungkin suara saya (padahal pengen teriak di kupingnya) dan bicara seperti ini : “Hati2, awas pecah, itu harganya 2 juta”. Lalu pembantu saya menjawab tak kalah nafsu “Meleset bu, bukannya saya sengaja jatuhin”. Saya diam nahan diri lalu dia ngelanjut lagi “Masa si saya jatuh2hin barang ibu”. Mulutnya dia manyun, wajahnya cemberut. Loh? kok jadi dia yang marah ke saya? bukankah saya yg harusnya marah ke dia. Lalu saya semprot lagi dengan suara agak kencang: “Yang bilang kamu sengaja jatuhin siapa? lagian mana ada orang yang jatuh2in barang bukan miliknya di dekat yang punya barang? Kalau saya bilang HATI HATI itu artinya kamu nyucinya pelan2! gak dengan cara kasar begitu sampai barang saya jadi jatuh!”. Lalu dia terdiam seribu basa.

Saya kesal, karena saya tahu dia memang tak sengaja menjatuhkan barang saya (untung tidak pecah juga) tapi saya bicara untuk mengingatkan dia berhati-hati memperlakukan barang2 saya. Tidak saja karena barang itu memang barang mahal, tapi juga karena selama ini dia memang cenderung kasar. Sehingga banyak yang rompel atau peyot peralatan dapur saya karena kerjanya yang kasar itu sehingga barang sering jatuh atau terbentur dengan kerasnya.

Saya kesal karena maksud saya tidak sampai ke kepalanya. Maksud saya adalah dia harus hati2!!! itu saja!! Kenapa tiba2 dia menuduh saya marah karena dia saya tuduh menjatuhkan barang saya dengan sengaja? Kalau dia menuduh saya “never judge a book by its cover”, saya juga sangat merasa pantas kalau saya menuding dia : “you’re the one who judge a book by its cover”. I never judge you!! but You judge me and thats so clearly. Karena saya yang paling tau apa maksud kata2 yang saya ucapkan padanya, saya yang memikirkannya dan saya yang merasakannya. 

Buat saya eror semacam ini bisa menimpa saya, atau menimpa orang lain. Mungkin sangat sering terjadi, sangat biasa terjadi. Saya pernah menjadi orang yang “salah mengerti” atau sebaliknya saya pernah menjadi (seperti cerita saya barusan) orang yang disalah artikan. Tentu saja kedua posisi itu (karena saya pernah berada dalam dua posisi itu) sama2 tak mengenakkan. Saya paham mengapa pembantu saya lalu jadi marah… dan saya juga tak menyalahkan diri saya sendiri kalau lalu jadi marah padanya karena marahnya dia itu tak klik dengan maksud yang saya sampaikan padanya. 

Sangat perlu orang yang berjiwa besar untuk mengakui bahwa dirinya salah mengerti. “Ooooh… saya kira ibu marah karena ibu pikir saya sengaja menjatuhkan barang ibu, ternyata ibu marah karena saya kurang berhati-hati memperlakukan barang ibu”. Artinya apa? kalau sengaja itu mengandung unsur kesengajaan kalau kurang berhati-hati itu mengandung unsur ketidaksengajaan. Bukankah itu sebuah perbedaan yang sangat besar dan sangat bertolak belakang? Saya tak suka dianggap sejahat itu!! Karena saya tak pernah berpikiran culas.

Saya mencoba mencermati sesuatu dari hal ini…

Mungkin kalau saya di posisikan pada posisi saya yang “salah mengerti”, ketika saya merasa ada sesuatu yang ‘bau’ saya lebih baik memastikan apakah itu yg berbau busuk? sebelum saya meneriakkan ada bangkai. Karena kalau ternyata itu bukan bangkai dan itu hanya sekedar bau kentut… saya tak akan ada di posisi salah mengerti yang malah membuat runyam suasana dan membikin malu saya sendiri, belum lagi saya bukan tipe orang yang berjiwa besar mengakui kalau saya salah mengerti.

Hufft……pelajaran yang hanya bisa dipelajari dari kehidupan, bukan bangku sekolah. 

Image