Category: Notes


Mati

Saya itu punya kebiasaan, kalau ada yang mati, saya tracking semua jejak yang ditinggalkan alm. Melihat semua rekaman mereka, semua kenangan yang mereka tinggalkan dan semua tentang alm. Bahkan jenazahnya saya pandangi lama-lama. 

Selama saya melakukan itu pikiran saya menerawang kemana-mana.

God, hidup ini benar cuma main main meskipun bertujuan bak “saringan”. Tapi sungguh cuma main-main. Manusia bisa di”angkat” begitu saja. Begitu saja semau-mau Tuhan. Katanya sih soal kematian sudah jadi deal antara manusia dan Tuhan sebelum dilahirkan, tapi lalu dibuat lupa. Karena kalau manusia tahu kapan akan mati, bisa2 dia tak mampu menikmati kehidupan.

Begitulah saya memperhatikan tingkah polah si bakal jenazah sampai menjadi jenazah. Menyambungkannya pada kehidupan saya sendiri yang masih saya genggam entah sampai kapan. Rasanya sudah bukan saatnya berlebih-lebihan tertawa lagi karena usia terus maju. Kita harusnya takut, karena bekal hidup abadi masih belum cukup. Sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang dan tanpa bantuan siapapun kecuali amalan kita sendiri, sedang menunggu untuk dijalani. Kalau kita tak mati muda karena penyakit atau cilaka, kita pasti mati karena umur tua. Itu pasti.

Manusia harus selalu ingat mati, betapapun ingatan itu seperti pagar yang mencegah kita jatuh ke jurang yang dalam lalu mati sia sia.

Harta melimpah dan rumah megah bak istana Ratu Saba, benar2 ditinggal begitu saja, tak berarti tak bernilai kecuali harta yang dipakai di jalan Allah. Tak ada yang kita bawa dalam kubur berukuran 2 meteran itu. Tak ada kecuali kain kafan pembungkus daging yang bakal membusuk dimakan ulat. Kecantikan tak terbawa, keseksian tak terbawa, semua membusuk, bakal membusuk. Hak pakai itu telah usai…

Kalau benar rasa alam barzah itu seperti yang pernah saya mimpikan, maka jiwa kita selanjutnya hampa. Ingatan tersisa cuma 1%. Kita bahkan tak tahu apa yang sedang kita alami selain tau bahwa kita sudah mati dan rasa penyesalan tentang sedikitnya amalan ketika hidup begitu menggunung dan sudah terlambat. Kita tahu kita tak lagi bisa sholat, tak lagi bisa sadakah, tak lagi bisa berbuat baik apapun. Kita telah terkunci dengan bekal sedikit, kekuatiran pada ketentuan selanjutnya. Kita bener2 mengkuatirkan diri kita sendiri..bukan anak, istri, suami atau orang tua. Bukan!.

Kadang saya bertanya, untuk apa perjalanan panjang ini harus ditempuh manusia? Untuk apa penciptaan ini? Cuma untuk kesenanganNya? Ke AkuanNya? 

Walahuallam bi sawab…. Saya hanya seorang hamba yang mencintaiNya dengan segala ketidakmengertian dalam keterbatasan manusia.

Thing is not get easier

Surat Al A’la.

Ternyata dalam surat Al A’la Allah telah memberitahukan bahwa Dia tak akan membuat situasi menjadi lebih mudah seperti yang kita mau, tapi Allah menjamin kita mudah menjalani semua ujian jika kita memang bermunajat untuk itu. 


Pantas saja…

Jika kita mendekatkan diri padaNya, memohon diberi jalan keluar atas masalah2, seringkali memang nothin happen, tak ada perubahan satu derajatpun! Tapi kita diberi kemampuan menjalani masalah tersebut dengan lebih mudah secara fisik dan mental. Semakin kita mendekatiNya, bahkan ada kemungkinan masalah menjadi semakin berat tetapi kita tetap diberi kemudahan menjalaninya. Jangan kau pikir ketenanganmu itu bukan sebuah ” pemberian” . Itu hadiah akan rasa percayamu padaNya bahwa Dia akan selalu didekatmu, membimbingmu dan membantumu melewati semua.

Kadang kita terlalu fokus pada keinginan ego kita sendiri dan lupa bahwa kita butuh pembersihan jiwa dan ruh apabila menghendakiNya. Kesucian tak pernah bisa menyatu dengan nafsu dan segala peri kesetanan dan peri kebinatangan. Itu sebabnya kita dibersihkan… 

Bicara

“Berenti bicara politik” Begitu saran beberapa kawan senior ketika di SMA dan saran kawan2 lain, lalu terakhir, masuk saran ibu saya bernada serupa. “Demi keselamatanmu” sambung mereka. Wut???

How? Bagaimana saya bisa berhenti melihat kesalahan dan kebodohan? Bagaimana saya bisa berhenti melihat panah2 fitnah diarahkan pada orang2 yang baik dan benar? Bagaimana saya bisa berhenti melihat masa depan anak cucu saya jika ditangan pemimpin yang salah? 

Oh ya, saya memang tidak dibayar. Ini cuma tanggung-jawab moral dari ilmu yang saya punya, pengetahuan yang saya miliki. Jika dari yang saya telah diberiNya itu saya bisa membalikkan satu pemikiran “ragu ragu” menjadi “pasti” saja..atau membenarkan yang salah dari satu kepalaa saja, itu sudah sesuatu untuk saya. Atau paling tidak saya membantu saling menguatkan dan berbagi informasi benar sesama teman semisi saja, itu sesuatu buat saya. 

Saya, kami tak dibayar memang tapi yang sedang kami amankan itu adalah masa depan anak cucu kami sendiri, bukan siapa siapa. Saya, kami juga bukan sok pejuang bukan pula sok pahlawan tapi hari gini medsos itu salah satu ujung tombak penyebaran informasi era digital. Hidup seseorang bisa berakhir atau cemerlang lewat medsos demikian pula urusan politik. Jadi kalau arus informasi yang cepat tanpa henti selama 24 jam itu dimonopoli berita2 tak benar, profokasi dan fitnah, mau jadi apa negeri ini? Tentu saja harus kami imbangi semampu kami sekuat yang kami bisa. Ibarat orang nelen racun satu sendok teh, harus dinetralisir dengan air berember-ember supaya bersih!

Berawal dari medsos lalu mulut ke mulut didunia nyata. Sungguh berbahaya kalau yang dibaca berita fitnah tiada henti atau info info bermuatan negatif yang tiada henti.

Saya tak mau berhenti “bicara” sebelum saya mati.

Ujian

Ujian kali ini masuk lewat jalur politik. 

Saya itu gemini yang paling gak tahan liat manusia2 celenok yang gak tau apa-apa tapi nantang debat. Ternyata tantangan menjelaskan sesuatu pada orang bodoh itu berbeda rasanya dengan tantangan menjelaskan sesuatu pada orang pintar. Ada titik dimana si orang pintar ini berhenti untuk mikir. Jikalau dia mulai mengerti dia akan sedikit berubah meski tetap gak mau ngaku salah. But for me, it is fine! Sementara sama si orang bodoh, apapun yang kita jelaskan, semua akan mental ke antariksa. Dua hal saja, mereka akan masukkan hal baru untuk menjatuhkan lawan ketika kalah, atau muter2 di permasalahan gak nemu nemu intinya dan buat kita yang memperhatikan, itu sangat meletihkan jiwa raga.

Kata orang; biarkan saja mereka. Biarkan? Kalau ada 3 juta kepala seperti itu bagaimana? 3 juta bodoh tapi punya hak vote itu berbahaya sekali. Banyak kok yang putar haluan karena tercerahkan, so why not try meski resikonya adalah lelah hayati…

Dont say buat apa mikir negara wong mikir hidup sendiri aja susah. 

Bukan negara sebetulnya, tapi lebih luas dari itu, yaitu orang orang yang banyak manfaatnya bagi orang banyak, tapi didholimi! Kan kasian orang2 yang tadinya dapat manfaat dari mereka??? Saya gak bisa melihat hal hal seperti ini. Bukan karena saya pernah merasa tak dihargai oleh orang yang saya hargai saja, tapi saya juga pernah merasakan bahwa memberi manfaat bagi orang lain dengan sebaik baiknya itu adalah perjuangan berat. Itu bukan hal kecil apalagi skupnya luas.

Betapa bodohnya orang-orang yang berusaha menyingkirkan manusia-manusia terbaik ciptaanNya. Karena seumur hidup saya, manusia yang bermanfaat bagi orang banyak itu hanya segelintir! Ya! Segelintir!!

Menghadapi orang2 yang anti orang baik dengan dalih apapun sangat sangat mengusik pri kebinatangan saya. Terus terang saya bisa melempar komentar menyakitkan hati. Ini menjelang puasa, ini juga menjelang ujian anak anak saya, tapi saya banyak melepas hujat tak terkendali pada mereka mereka yang anti kebaikan.

Tuhan, setiap saat saya mohon ampunMu dan meminta sabar. Tapi kebencian ini sungguh luar biasa mengoyak batas kesabaran. Nampaknya doa saja tak mampu menjauhkan saya jika tanpa aksi menghindari. Tapi saya tak hendak membiarkan semua ini. Tolong bantu saya Tuhan. Bantu saya bertahan seperti halnya Rasulullah bertahan menghadapi masyarakat jahiliah dan sabar menjelaskan kebenaran. Saya tak seujungkukupun se sabar rasulullah, tapi saya pun tak hendak berhenti meminta padaMu karena hanya Engkaulah Penguasa hati. 

Sabarkan saya…

Sabarkan saya… 

Gembeng

Kadang aku gembeng. Aku melihat sial dimana-mana. Panas menyengat kumaki, mendung tak hujan kumaki, angin kumaki, orang kumaki, hidup ini kumaki.

Kadang aku gembeng. Pikir pikir bodoh lalu marah sendiri. Seperti melempar kepala pada dinding, sakit, nangis sendiri. Menendang batu lalu teriak sendiri. 

Kadang aku gembeng. Menoleh pada sisi jelek lalu muram. Menarik selimut menutup muka lalu gelap. Membenamkan kepala dalam air lalu kelelep. Naik ke atap lalu loncat, kaki terkilir, sakit sendiri.

Kadang aku gembeng. Cari cari tulang lalu ditelan, padahal kepelang sendiri. 

Kadang aku lupa gembeng tak lihat waktu. Padahal aku bisa biasa tak gembeng. Menjadi normal waktu panjang dan membahagiakan jiwa sendiri maupun jiwa jiwa sekitar. 

Aku mau tak lagi gembeng. Tapi aku manusia. Aku dari tanah yang hina, aku bisa sehina itu. Sehina saat aku gembeng.

Demi Masa; a Mentally Prepare

Jaman sekarang gerak informasi sudah luar biasa cepat bukan main. Tak ada lagi jarak yang membatasi kecepatannya. Semua berita dunia bisa dalam satu genggaman tangan: gadged

Masa tak akan mundur ke jaman batu. Jaman dimana anak masih bebas bermain tanpa takut diculik lalu dijual organ tubuhnya. Masa dimana dongeng masih dikumandangkan sebelum tidur, bukannya malah main game. Masa masa yang banyak tenangnya karena teknologi juga masih tivi kayu kotak hitam putih dengan antena yang harus dimiring miringkan kesana kemari supaya semut semut pergi.

Masa ini jelas melaju menuju masa kehancuran ahlak, masa penuh kebingungan, masa dimana tipu daya manusia mencapai puncak keemasannya. Dan kita masih bisa berdiam diri? tak melakukan sesuatu? paling tidak dengan ilmu kita, kita membekali anak anak kita dengan tips dan triks bagaimana mendeteksi islam yang sesungguhnya, bagaimana mengetahui islam radikal, atau bagaimana membekali mereka dengan contoh kasus yang kelak akan sering mereka hadapi di jamannya kelak.

Mungkin karena saya dilahirkan bersifat ingin tahu, jadi saya tak pernah letih mencari. Bukan untuk mengikuti trend, bukan pula untuk sok tau, tapi saya murni memang pencari tahu. Saya bisa terbangun jam dua malam dan mencari tau sesuatu yang mengganggu pikiran saya, karena saya tak suka diperbudak pikiran. Berpikir itu lelah, itu sebabnya segeralah cari tahu!!

Saya tak bisa disuruh slow down untuk hal hal yang mengganggu pikiran saya dan minta segera dicari jawabannya, tak bisa. Itu sebab ketika adik libra saya mendebat saya tentang sesuatu yang saya sudah tau lama, lalu dia membuka masalah yang buat saya sudah tuntas urusannya, sedangkan saya juga sudah melejit ke puncak masalah teratas, saya tak bisa. Saya tak bisa diajak mundur. Yang saya tahu sudah terlalu banyak dan jelas soal masalah itu. Dia tak tau apa apa karena dia memang bukan pencari tau seperti saya. Jadi saya lebih memilih meninggalkan “debat” telat waktu dan terus melaju ke atas. Saya lebih baik stuck diatas sana daripada harus turun kembali ke bawah , mendebat hal yang buat saya sudah ketinggalan jaman dan tak penting lagi. Lagipun bukan saya yang punya power merubah mindset orang. Cukup beberapa fakta saya beberkan, kalau gak terima yo wes. Cari tau sendiri, i am out.

Simpel saja buat saya. Tak seperti orang lain yang “terlalu lugu” berpikir bahwa ini cuma politik, ngapain ikut ribet? Saya melihat ini sebagai jaman tipu daya yang orang banyak memainkan tipuan untuk kepentingan2 jahat. Saya ingin meng edukasi anak-anak saya bahwa gini lo politik itu. Ketika mereka bertanya: “Mengapa Pak Ahok dan Pak Jokowi dibenci?, bukankah mereka baik?” masa iya saya harus bilang “Ah tau apa kamu? paling juga dijelasin gak ngerti”. Oooh hoh hoho, tidak sama sekali. Saya akan senang hati mengisahkan perpolitikan di tanah air dan mengapa orang baik selalu diserang orang jahat. Gini lo ciri2 bad guys, gini ciri2 good guys. Lalu saya tes case, misal ada kasus bla bla bla, menurut kamu siapa yang bisa kita percaya? dan lain sebagainya.

Andaikan wawasan saya tak luas, yang saya tau cuma bersihkan rumah, ngomel dan masak, bagaimana saya bisa mengedukasi anak anak saya sebagai bekal mereka menghadapi dunia tipu daya ini? Jaman saya dulu tak seberat sekarang karena informasi cuma dari satu pintu, tapi jaman mereka kelak, akan sangat berbeda. Informasi akan datang membabi buta mengacaukan nalar mereka, sehingga mereka susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah atau mana yang jebakan. Jadi saya harus menjadi kepo untuk anak anak saya.

Untuk bekal mereka supaya kelak gak lugu2 amat ditipu tipu manusia manusia yang sok alim dengan membawa bendera bendera agama, berdaster bersorban padahal mereka ulama su. Supaya mereka tak gampang kagum pada penampilan religius seseorang, supaya mereka tak gampang menilai orang hanya karena sinis rasial dan beda agama. Saya mengokohkan pada mereka bahwa islam itu yang benar adalah yang lebih mengajak damai daripada ribut, lebih suka memberi maaf daripada menuntut, dan jangan gampang menilai orang cuma dari penampilan. Ada setan berjubah ulama dan ada malaikat berpenampilan gembel. Ada teman yang menguasai ilmu agama tapi hatinya jahat, dan ada kaum ahli kitab (nasrani dan yahudi) yang bukan islam tapi hatinya baik, maka pilihlah yang baik itu untuk ditemani. Mereka akan jauh lebih aman untuk mu daripada yang se islam tapi ngajakin kamu korupsi.

Yah seperti itu….

 

Hidup

Sebagai manusia kadang2 saya merasa letih. Hdup ternyata begitu kerasnya dan saya sama sekali tak pernah meminta harus dilahirkan, saya bahkan tak peduli surga dan neraka. Saya betul2 tak minta dilahirkan untuk diuji. Mengapa tak ciptakan saya menjadi malaikat yang tak punya rasa, atau greget apapun seperti layaknya manusia. Tak menjadi sebuah masterpiece ciptaan pun tak mengapalah, karena hidup ternyata tak asik. Dari lahir sudah berkubang masalah, dan tak kunjung berhenti diterpa masalah. Manusia hanya dipindahkan dari mangkok masalah A, ke mangkok masalah B, begitu terus sampai masa hidup berakhir. Dicuci kataNYA, dibersihkan kataNYA. Tapi saya tak suka, lalu mana hak saya untuk menolak dilahirkan? mana hak saya untuk menolak diciptakan menjadi manusia? bagaimana jika saya lebih memilih menjadi malaikat? MemujaMU, didekatMU, menjadi pelayanMU tapi tanpa harus KAU uji?

Tapi Tuhan tak sejahat pikiran saya itu. Bagaimanapun ketika di alam ruh, saya pasti sangat mencintaiNYA, saya selalu bersujud dengan penuh rasa takwa kepadaNYA, saya menatapNYA dengan buncah2 pemujaan yang tak terperi besarnya, mengagumiNYA dengan sepenuh ruh saya.

Lalu ketika DIA memilih saya untuk dilahirkan sebagai manusia, dengan cinta yang besar, saya bersujud sukur dihadapanNYA, berterimakasih menjadi pilihan dengan sebuah nama berbinti dan buku jalan kehidupan yang harus kelak saya tempuh demi membuktikan cinta saya padaNYA. Dan DIA menjanjikan saya akan kembali padaNYA dengan hadiah surga jikalau saya bisa tetap mencintaiNYA setelah semua ujian yang DIA berikan pada saya. Karena kalau cuma sekedar menjadi ruh, saya tak akan pernah mencicipi surga yang DIA bangun atas nama cinta terhadap ciptaanNYA, the best creation HE has made : manusia. Dan para malaikat hanya akan menjadi pelayan..Dia memilih saya untuk menjadi pemilik surga, bukan pelayan penghuni surga.

“Jika kau rindu AKU, Aku selalu dekat dihatimu. sedekat urat nadi dilehermu ” Begitu surat cintaNYA. “Jika kau ingin bertemu AKU, sholatlah. AKU turun ke bumi setiap 1/3 malam. AKU selalu menunggu kau datang, dan kapan saja kau datang, AKU ada. Jika kau masih ingat betapa dulu kau begitu mencintaiKU, kau tak akan pernah berat melakukan semua tugasmu di bumi ini. Tapi dimana nanti letak perjuanganmu jika ingatanmu tentang cintamu padaKU di alam ruh tak kukaburkan? Kuatkan hatimu dari gangguan setan dengan terus menjalankan apa yang KU perintahkan padamu untuk kau jalankan. Jangan sekalipun kau menyerah. AKU telah memilihmu untuk menghuni surga yang kubangun untukmu. Bertahanlah cintaKU. AKU akan membantumu menemukan AKU, memandumu, dan terus menjagamu, selama cintamu padaKU bisa kau tunjukkan. Buktikan padaKU bahwa kau tak pernah lupa pada KEKASIHmu yang tak lagi bisa kau lihat, tapi selalu menunggumu dengan sabar. Berjuanglah demi AKU dan jangan pernah lupakan AKU yang telah memilihmu sebagai yang terbaik”

Tak mudah mengingat betapa kuat cinta kita padaNYA ketika kita masih di alam ruh sana, tapi jujur pada dirimu sendiri… rasa itu ada. Jejaknya itu ada. Kau bahkan bisa menangis tanpa henti jika kau menemukan sedikit saja jejak itu…..

Temukanlah berkali-kali jejak itu. Teruslah mencari jejak itu. DIA tak pernah menghilangkannya 100%, DIA menyisakannya sedikit untuk memandumu dan mengikatmu agar selalu dekat kepadaNYA. Sehingga apabila CINTA memanggilmu pulang, kau akan begitu bahagia menyambut saat itu, berlari kembali padaNYA dan siap mengikuti seleksi selanjutnya dengan banyak kemudahan yang akan DIA limpahkan kepadamu. Sesingkat apapun hidup kita atau sepanjang apapun hidup kita will not make any difference then….since kita memang tak pernah kehilangan Sang Pencinta dan selalu mengharap pertemuan denganNYA.

Kau percaya?

Orang yang saya pilih untuk saya jagokan sebagai gubernur DKI kalah voting. Tapi tak mengapa, saya percaya Tuhan tidak tidur dengan membiarkan orang baik dan amanah di dholimi sedemikian rupa. Selalu ada rencana besar dibalik sebuah perubahan, ntah perubahan itu dikehendaki ataupun tak dikehendaki; ntah perubahan itu sesuai dengan keinginan dan harapan kita atau malah sebaliknya. Yang Allah janjikan hanya satu : Trust Me, Allah itu Maha Adil dan sebaik-baik Perencana. Then be it.

Yang jelas lewat kasus “tersingkirnya gubernur hebat” ini saya bisa melihat siapa-siapa saja yang punya “bibit” intoleransi, susah memaafkan, rasial, gampang terhasut, retorika daripada kerja nyata, dan tabayunless. Silahkan tambah sendiri sisanya (kalau masih ada). Seperti mencampurkan air dan minyak dalam satu gelas kasus….”pemisahan” itu terlihat sangat nyata, mana kumpulan minyak dan mana kumpulan air, begitulah yang terjadi dengan pesta demokrasi DKI.

Hak kalian menyalahkan seseorang, dan hak kalian memilih seseorang, tapi bibit yang kalian punya dalam hati menunjukkan siapa kalian. Saya tak akan mengutak-atik apa yang sudah ada dalam hati kalian itu karena bukan saya yang meletakkannya disana. Kalau Tuhan berkenan, Tuhanlah yang akan mengangkatnya, bukan saya.

Itulah sebabnya ketika saya diajak debat tentang mengapa tuduhan “penista” itu keluar, setelah yang dituduh penista itu kalah voting, saya benar2 sudah muak. Bibit2 itu sudah ada dalam dirimu dan saya bukan Sang Maha Membetulkan. Bibit2 itu pulalah yang di”makani” sehingga orang baik kalah. Bibit2 itu yang selama ini saya coba “hilangkan” dengan menunjukkan banyak pendapat lain “diluar” kotak mereka, dan ternyata tak berhasil. Bibit2 itu tumbuh subur bak lumut di kolam lembab tak terpakai. Bukan urusan saya membersihkan bibit2 itu, saya hanya menyampaikan. Apabila tak bisa diterima ya sudah. Keep it yourself. Semoga membawa kebaikan untuk dirimu. I am out.

Kadang2 memang ada hal yang tak perlu dipaksakan untuk diterima.

377fe0dadfec9f31ac5332a5f376210f420f08109317028b4effccc543294204

Keruh

Rasanya kepala ini merekah, tiap kali ada gangguan pada perasaan.

Bagaimana bisa orang yang sudah berumur cukup , jam terbang hidup tinggi, dengan tingkat intelektual mumpuni, bisa tiba-tiba menjadi idiot ketika mengedepankan ego. Seperti ayam yang kocar-kacir panik ketika melihat macan mengintip. Apakah menutupi rasa bersalah bisa membuat orang nampak setolol itu?

Apa sih yang dijagokan? memimpin tak bisa, bertanggung jawab tak bisa, menasehati tak bisa, boro2 mengimami, tapi bertindak bak penguasa. Kalah pulak firaun dibuatnya??

Look, how can I appreciate people who can’t appreciate me? how can I trust people who can’t show me that he could be trusted? how?

 

Waktu

Sesungguhnya setiap benda hidup atau mati, dan bahkan diri kita sendiri memiliki waktu tertentu. Spesifik waktu tentang hitungan jam sampai detik kapan ia akan habis “bertugas” dimuka bumi ini untuk masing2 kita. Semua membawa “jam” nya masing2.

Andai kita bisa melihat jam itu, kita akan menghargai dan mensyukuri keberadaan mereka, keberadaan kita. Kita akan selalu bisa melihat kapan mereka akan pergi atau rusak? Berapa lama lagi kebersamaan itu? Pentingkah pertikaian jika waktu perpisahan sebentar lagi? Pentingkah membenci jika besok kita mati? 

Masalahnya, “jam bertugas” di dunia ini kasat mata. Ujian untuk melihat seberapa bagus kita menghargai hidup kita dan orang2 disekitar kita, melihat seberapa tulus kita mencintai?, Melihat seberapa kuat kita bersabar?, Melihat seberapa jauh kita bertahan untuk mensyukuri nikmat pemberianNya? Tanpa harus tau kapan berakhirnya..

Seberapa ?