Category: Poet


Rumi

Rumi

My home has no address;
my tracks leave no trace.
I am neither body nor soul–
What can I say?

I belong to the Self of the Beloved..!

Rumi
image: ILIKO KANDAVELI

Kahlil Gibran Poet

“Much of your pain is self-chosen…”

Your pain is the breaking of the shell that encloses your understanding.
Even as the stone of the fruit must break, that its heart may stand in the sun, so must you know pain.
And could you keep your heart in wonder at the daily miracles of your life, your pain would not seem less wondrous than your joy;
And you would accept the seasons of your heart,
even as you have always accepted the seasons that pass over your fields.
And you would watch with serenity through the winters of your grief.

Much of your pain is self-chosen.
It is the bitter potion by which the physician within you heals your sick self.
Therefore trust the physician, and drink his remedy in silence and tranquillity:

For his hand, though heavy and hard, is guided by the tender hand of the Unseen,
And the cup he brings, though it burn your lips,
has been fashioned of the clay which the Potter has moistened with His own sacred tears.

~Kahlil Gibran

Image

LUKA

katakan hatiku mati dan aku seonggok mayat yang tak lagi merasa sakit atas luka-lukaku

katakan hatiku berpaling dari takdir penciptaan asalnya

bilang aku menghamba pada dunia dan menolak menyelisihi hawa nafsu

bilang aku pengecut karena kengerianku pada kebenaran dan kesendirian dalam pencarian yang jujur

katakan aku dipalingkan sesuai dengan yang kukehendaki….

sehingga aku memakan makanan yang membahayakan dan mengobati diriku dengan obat yang menghancurkan…

 

tapi aku mencintai Tuhanku dan tak ada yang mampu merubahnya…

aku masih punya takut kehilangan cintaNya

kebodohanku telah menghalangiku daripadaNya

bagaimana aku bisa membiarkan kekacauan ini sementara ruhku begitu kuat bergantung padaNya ?

aku bahkan masih merasa sakit atas luka-luka keburukanku

merasa sakit atas kebodohanku terhadap kebenaran

merasa sakit atas kebatilanku sendiri….

 

wahai hati yang didalamnya masih ada tanda-tanda kehidupan….

tetaplah padaku dengan bersabar menanggung sakitnya, dan jangan sekali kali berpaling

hajatkan aku pada kekuatan kesabaran dan keyakinan atas apa yang sedang berjalan…

tetaplah padaku dengan melihat kebenaran seperti mata melihat matahari….

 

 

Noktah Suci

Tiba masanya  dimana aku harus mengeruhkan semua keindahan angan-angan yang belum  kunjung ditemui hanya untuk melindungi  niat dari membangun rumah yang belum tentu akan ditinggali atau mengumpulkan ‘harta’  yang belum tentu dimiliki.

 

Bersyukurnya aku karena masih dipertemukan dengan pagi yang penuh keagungan, dimana detik-detiknya bisa mengandung seribu kebaikan meskipun esok bisa jadi masih terbit untuk orang lain tapi tidak untukku lagi .

 

Biarkan aku melihat diriku sebagai bagian dari kematian dan mengikat hatiku pada ketakutan salah. Karena aku ingin selalu condong pada kegelisahan noktah hitamku, dan bersabar atas keindahan duniawi  jika ia menampakkan diri dengan segala perhiasannya.

 

Aku hanya ingin menemukan harapanku dan mimpi-mimpiku tanpa sebuah pembangkangan setidaknya dalam kesucian niat……

 

By : R.Nindyasiwi

Dan kertasmu berbicara dengan bahasa hati

ketika jiwa rapuh dalam genggammu menjadi begitu berarti

mendapatkan nafasnya kembali setelah mati bertahun-tahun

Duh raga sempurna yang tak lagi mengepakkan sayap kebebasannya

telah kau larung harapmu pada angin yang bertiup

membawanya berlari dan terus berlari mengejar citanya

Kau boleh diam tak bergeming dalam sangkar emasmu

meski mimpimu melaju tak terhenti

Dekap ku sejenak

pada sedikitnya waktu …

untuk sebuah keabadian rasa

dan kesempurnaan tanpa batas………

Jakarta, 10 November 2011….

Image