Latest Entries »

Ilmu

Tadi saya sedikit ngobrol dengan seseorang yang ntah atheis ntah agnostik, tentang bagaimana dia melihat anak beragama justru lebih rasis daripada anak yang tidak beragama. Oh … Saya tak heran itu bisa terjadi, sebab, dilingkungan terdekat sayapun ada buktinya. Semakin dalam ilmu agamanya, lha kok semakin rasis? Semakin panjang jenggotnya lha kok semakin radikal? What is goin on here? What is wrong with that religion? So saya gak total menyalahkan cara pandang kawan saya ini. Apa yg dia lihat adalah fakta.

Saya bilang mungkin orangtualah yang berpotensi besar sebagai pendidik anak yang salah ‘menerjemahkan” isi quran. He said: loh wong gurunya kelas sufi, ilmu tarekatnya dalam sering liqo. Ya tapi apa itu jadi jaminan kebenaran? Mau seribu kali datang ke pengajian dalam sehari, mau berguru pada 1000 orang, tak menjamin serapan ilmunya akan benar. Manusia berusaha sesuai niat masing2 dan Allah menentukan hasil akhirnya sesuai pribadi dan niat masing2.

He said again: semua ulama akan berbeda pendapat, bahkan mahzab aja terbagi menurut 5 imam, jadi patokan apa yang kita pakai untuk menentukan ajaran mana yang benar? Ntahlah…pertanyaannya itu buat saya sangat mudah menjawabnya. Kalau dia bingung harus pilih ikut ajaran mahzab siapa? Lalu ulama apa yg patut didengar? Saya kok simpel saja menentukan arah panutan: ikuti ulama yang mengajarkan agama yg penuh rahmat Illahi dan bukan murka Illahi, memgajarkan kasih sayang dan bukan kebencian bahkan pada musuh sekalipun, mengajarkan keadilan dan bukan ketidakadilan, atau memgajarkan memgampuni bukan menuntut balas!!! Itu!! Ulama yang apabila kita mendengarkan tausiahnya, kita akan terinspirasi banyak kebaikan, menjadi lebih sabar dan lebih pengertian, menjadi dingin instead of panas!!

Dan diapun diam…… Sediam saya. Mungkin kami sama sama merenungi pendapat masing2. Yup pendapat masing2

Advertisements

Kamu pikir cinta itu bisa abadi tanpa seijinNya? Tidak; bisa datang tanpa seijinNya? Tidak; bisa pergi tanpa seijinNya? Tidak. Lalu kenapa kecewa jika cinta tak ada? Beranikah kamu meragukan Tuhanmu? MemakiNya? MenyelisihiNya? Atas cinta yg terengut dari lubuk seseorang?

Never expect too much from somebody.. Never trust human! Except Allah, so you will never be dissapointed. Yang sering membuat kita kecewa adalah rencana atau harapan atau asumsi kita tak sejalan dengan kehendakNya. So it is not about the object of problem itself but lebih ke “perbedaan” harapan. Lalu antara ekspektasi kita dan Tuhan, kira2 ekspektasi siapa yang paling Maha Benar? Keputusan siapa yang paling Maha Bijak? Bukankah selalu ada maksud tersirat dari setiap yang tersurat? And siapalah kita ini yang merasa wajib mencak2? 

Kita cuma Butiran debu…..

So what we should do then when love is not around anymore? Nothin’. If you want you could pray and ask for it… If not.. Then thats it: do nothin’. 

Itu sebabnya…ketika cinta ada, rawatlah, syukuri dan minta supaya tetap ada bahkan tumbuh lalu bersemi, selalu bersemi. Manusia kadang terlalu pede mengira once love is there…it will always there for eva! Hey! We are not whitney houston’s song people! We are human! …and I will always love you is bullshit without our own efforts and His permission. 

So… I laught at you and myself…

ILMU

Ada masa-masa yang datang kembali untuk memastikan apakah kau sudah benar2 hijrah? Ketika kau yakin kau sudah, sebenarnya kau sedang mendahului Tuhan. Bukan kau yang memutuskan kau sudah hijrah. Kau tak pernah tau sejauh mana pengakuan hijrahmu. Jangan gegabah.

Harusnya kau cukup tahu diri untuk tidak terlalu yakin akan hijrahmu, kecuali mengatakan inshaa Allah sudah hijrah. In shaa Allah. Karena Allah paling tahu kadarmu sejauh mana, maka jangan sombong, jangan berbangga, sebab sesungguhnya meragu itu jauh lebih baik asal arahmu pasti: hijrah

Sebab situasi di depan sana, kau tak pernah tahu akan seperti apa. Seharusnya kau pantaskan dirimu untuk meminta supaya kau diberi situasi dan kedudukan yang jauh lebih baik dari hari kemaren, karena ujian tak akan pernah berhenti sampai nafas terakhirmu. Maka mintalah supaya apapun jenis ujiannya, kau selalu menjadi jauh lebih baik dari hari kemaren. Terlalu berpuas diri pada keyakinan akan hijrahmu rasanya terlalu prematur. Sekarang kau tahu betapa kau ternyata tak sepenuhnya hijrah, bukan???

Allah menunjukkan padamu betapa setitik kesombonganmu akan hijrah ternyata bullshit belaka. Kau masih bermain sampah dan berkotor-kotor. Merendahlah dihadapanNya…, jangan sombongkan sesuatu yang bukan kuasamu untuk menyatakan pasti. Kau belum hijrah dengan sungguh2….

Tapi hidup memang proses, dan jalannya naik turun, terjal dan berliku yang membuatmu jatuh bangun. Tapi lagi memang bukan kesempurnaan yang Dia inginkan darimu, tapi sejauh mana kau mau berusaha bangkit lagi setelah jatuh, dan sejauh mana kau niat kembali ke jalan yang benar setelah mengintili setan di jalan jalan sesatnya.

Kalau kau melihat kebelakang, ada banyak perbedaan dalam caramu melihat ujian. Suka tak suka, kau telah dibekali banyak ilmu olehNYA. Kau tau apa yang harus kau lakukan di ujian2 setelah pengakuan hijrahmu, tapi kau kadang nyetani. Meski begitu, karena hidup ini kesempatan berjuang, maka berjuanglah. Jika kau masih bangun esok pagi, artinya Allah masih memberimu kesempatan untuk memanfaatkan ilmu pemberianNYA itu. Ilmu yang kau dapatkan dengan tangis air mata darah lewat peristiwa2 memilukan. Sekarang ilmu itu sudah dalam genggamanmu, kau tahu pasti kau harus apa. Jangan dustai hati dan akalmu. Kau tahu pasti kau harus lakukan apa.

Jangan kasihani dirimu sekali lagi, karena setan dan egomu kadang bekerjasama untuk menyeretmu masuk kembali kedalam jurang dalam penyesalan, yang sekarangpun padahal tak pernah hilang bekasnya…

Mengerikan….

Menurut saya…..

Orang pintar dan orang cerdas itu berbeda. Cerdas itu gift yang gak semua orang punya. Pintar itu sebagian adalah gift, sebagian lagi adalah hasil ketekunan. Orang cerdas gak selalu harus pintar, orang pintar gak selalu juga cerdas.

Pintar itu cenderung kaku, sementara cerdas itu jauh lebih luwes. Orang pintar lebih teoritis, orang cerdas lebih praktikal. Analisa orang pintar biasanya terbatas, analisa orang cerdas itu tak terbatas.

Jadi somehow ada yang tanya: lebih asik cerdas atau pintar? lebih asik cerdas. Orang cerdas itu survivenya lebih asik daripada orang pintar. And you know what? orang cerdas seringkali gak merasa dia cerdas, tapi orang lain yang melihat dia cerdas. Sementara orang pintar mematok dirinya pintar dari pencapaian2nya yang diatas rata-rata. Hasilnya, orang pintar kebanyakan sombong dan berbangga-bangga hati dengan kepintarannya. Jeleknya lagi kalau lantas meremehkan orang lain. Sementara orang cerdas, yang tak pernah tau kalau dirinya cerdas, jauh lebih humble.

Masalahnya, cerdas itu pemberianNya. Tidak seperti kepintaran, kecerdasan tak bisa diusahakan 🙂

ISay NO to Racism

Saya bukan psikolog dan tak bisa memang mengambil kesimpulan rata-rata tentang apakah pendukung yang mendukung orang berbakat rasial, mengidap penyakit rasial juga?

Saya bukan tipe orang yang membedakan ini gelas majikan, ini gelas pembantu. Buat saya, selama pembantu itu sehat wal afiat, dia boleh memakai gelas majikan. Kalau makan di restauran, dia boleh semeja dengan majikan dengan menu pilihan sebebas majikan. Saya bukan tipe yang suka mengkotak-kotakkan manusia ntah karena dia lebih miskin, lebih bodoh, lebih hitam, lebih putih dll. Satu2nya pembedaan, yang pasti saya lakukan adalah apakah dia punya penyakit menular berbahaya atau tidak? sehingga perlu tindakan pencegahan, semisal membedakan gelas, membedakan kamar mandi dll yang tujuannya memang untuk menghindari bahaya.

Disadari atau tidak, semua manusia memang berpotensi menjadi rasial meski kadarnya berbeda-beda.  Ada yang untuk urusan kemiskinan, dia menjadi sangat rasial, orang miskin jangan ditemani. Ada yang rasialnya di urusan agama, adapula di suku, atau ras atau bahkan gender. Ada yang tidak rasial sama sekali alias potensi rasialnya nol persen.

Nah orang2 yang rasialnya nol persen ini saya lihat cenderung bersatu dengan sesamanya, dan orang2 dengan bibit rasial lebih dari nol persen cenderung membentuk kelompok sendiri. Maka ketika muncul figur pemimpin dengan bibit rasial yang sama dengan mereka, ya pasti mereka sukai dan mereka dukung. Sementara yang kadar rasialnya nol persen cenderung tak menyukai figur rasial dan lebih condong mendukung figur yang nol persen rasial. Apakah teori saya ini benar? ntahlah… tolong buktkan secara keilmuan.

Jika teori saya ini benar, maka saya menjadi tahu siapa-siapa sajakah orang2 disekitar saya yang ternyata mengandung penyakit rasial. Kawan2 yang nampaknya baik hati dan tanpa cacat cela, apabila mendukung manusia rasis, berarti dirinya sendiri mengandung bibit rasis yang sama???

Padahal di agama saya, Islam, kita tak boleh memberi celah sedikitpun untuk rasis feeeling itu muncul, apapun alasannya; ntah agama, ntah gender, ntah kekayaan, ntah suku, ras, dll. Jangan pernah membiarkan diri kita menjadi begitu jahat dengan cara rasis. Bagaimanapun manusia itu sama, diciptakan oleh Tuhan, warna kulit, gender, suku, strata, bisa berbeda karena tampak dari luar, tapi ruh kita semua sama!! bahkan tengkorak kita sama!!! yang membedakan manusia menurut Rasulullah adalah tingkat keimanan, dan perbuatan baiknya. Itu!

 

Siapa kamu?

Siapa kamu yang merasa bisa memiliki yang bukan milikmu? Siapa kamu yang merasa menguasai raga dan jiwa yang bukan milikmu? siapa kamu yang berpikir bahwa kehidupan berpusat padamu? siapa kamu yang mengharuskan orang bersyukur kepadamu? siapa kamu yang merasa sebagai sumber kebenaran? siapa kamu yang begitu yakin bahwa cinta itu abadi?

Kamu sebenarnya bukan siapa siapa…. sama baunya, sama busuknya sama bodohnya, sama tak abadinya, kamu bukan siapa siapa….

Tak ada yang perlu kamu sombongkan, pun tak ada yang perlu kamu banggakan. Karena kamu itu tak ada apa apanya, hanya seonggok daging, segumpal otak dan 70% cairan. Kalau kamu tumbuhan, kamu itu ketimun! Tak ada yang bisa kamu sombongkan sama sekali. Kemurahan hati Allahlah yang membuatmu jadi manusia sehingga orang melihat padamu. Tapi kesombongan telah membuatmu tak dilihat siapa siapa lagi…karena aslinya kamu memang bukan siapa siapa.

Jauh jauhlah kamu… sejauh jauh kamu bisa…..

 

Bahagia itu…

Dari kejadian ustad Nouman, saya semacam, sekali lagi, diberi gambaran bahwa, bahkan manusia yg sangat berilmu quran pun tak lepas dari dosa, tak lepas dari masalah. Jangan minder. Yang ilmunya tinggi saja bisa slip, apalagi yg tak berilmu seperti saya? Bukan slip lagi tapi jatuh terbanting-banting dedel duwel. Tapi persamaannya ada. Sama sama berbuat salah, tapi juga sama sama diberi kesempatan untuk bertobat, untuk perbaikan, minta ampunanNya… 

Saya pernah berpikir bahwa kepintaran bisa menjamin kebahagiaan, ternyata saya salah. Saya pernah berpikir bahwa kealiman bisa menjamin kebahagiaan, ternyata saya salah lagi. Cuma dua teori itu saja yang dulu sangat saya yakini benar, ternyata salah. Ternyata tak ada apapun yang bisa menjamin kehidupan kita akan baik baik saja, tidak kepintaran, tidak kealiman, tidak kekayaan. Bahkan seorang rasulpun tak mendapatkan jaminan bahwa hidupnya akan baik baik saja, padahal sudah tingkat kekasiNya! Hidup mereka malah cenderung terus menderita… 

Tapi apakah benar penderitaan fisik duniawi itu adalah penderitaan? Bukankah Allah selalu mencintai dengan cara menguji? Lalu semua teori2 saya tentang kepintaran, keimanan, kealiman bisa menjamin kebahagiaan gugur….. 

Bahagia itu adalah dicintai Allah… Dan cinta Allah itu tak selalu datang dalam bentuk kenikmatan duniawi seperti angan2 saya yang selalu bablas. Cinta Allah itulah harusnya kebahagiaan kita karena kita tahu kita dicintaiNya dengan kiriman ujianNya yang bertubi-tubi.

Ya Allah…. 

Nouman Skandal

Secara gak sengaja saya akhirnya tahu bahwa pendakwah fave saya sedang menghadapi masalah hidup yang cukup berat, dan komunitas bersikap terlalu berlebihan terhadapnya.

Buat saya, jasanya sebagai pendakwah kaliber kelas dunia yang membuat quran menjadi sangat indah artinya, membuat saya mampu melihat sejarah islam yang bersahaja, damai dan penuh kasih jauuuuh lebih berarti ketimbang apa yang dituduhkan padanya.

Look, manusia itu tempatnya dosa. Tak ada manusia suci di bumi ini, not even a saint! Manusia memang diciptakan seperti itu, agar dia bisa membandingkan salah dan benar. So begitu juga dengan Pak Nouman. Really, I dont care about his personal life, I care about his knowledge ! Itu yg penting!. Urusan pribadi beliau adalah urusannya dengan Sang Khalik, tapi urusannya dengan saya adalah berbagi ilmunya yang luar biasa itu!

Saya sangat…sangat berharap beliau bisa segera keluar dari masalah yang mencoreng nama baiknya ini, semoga Allah berkenan memberi bantuan dan membersihkan kembali namanya. Aamiin. Sehingga saya bisa kembali menikmati keindahan tafsir quran melalui ilmunya, aamiin aamiin

https://muslimmatters.org/2017/09/24/navigating-the-nouman-ali-khan-scandal/

Sesudah Umroh

Saya rasa, saya dibuatNya menyadari bahwa setelah umroh, ujian2 yang menghantam sebelum umroh, kembali “menyerang”. Awalnya saya tak menyadari but lama kelamaan saya merasa “wait a minute… are YOU test me again with the past tests?” sebab terasa sekali persamaannya :D. Semoga saya bukan keledai yang mau saja terjatuh di lubang yang sama, itu lagi itu lagi, padahal keluar dari lubang itu bukan kerjaan gampang.

Ketika saya mulai menjadari bahwa ini semacam ujian ulangan, saya melihat pada teman umtoh saya, nampaknya dia sedang mengalami hal yang sama. Ketika saya konfirmasi, dia mengamini. Hmmm….(pegang dagu). Tuhan, apakah Engkau sedang memastikan? Jika ya, bantu kami memastikan diri bahwa kami tak akan kembali melakukan dosa yang sama… apakah jika benar kami telah “berhasil” melalui ujianMU, maka berarti kami akan menerima ujian lanjutan dengan level lebih tinggi??? Melihat caraMU menguji, harusnya jawabannya adalah YA.  OMG…

Hati kecil saya membisiki ketakutan itu , “Allah tak akan menguji kamu diluar kemampuanmu. Ia akan pastikan kamu telah dibekali dengan kekuatan baru untuk menghadapi ujian yang baru, dan kamu akan baik-baik saja “, Ilmu ini diketahui banyak orang memang… ilmu tentang ujian yang hanya diberikan sesuai kemampuan masing2. So, next level means next test means new capability. Fyiuh….

Saya tak berani bilang saya siap….

 

 

Sabodo

Entah apa yg sedang terjadi, sekarang saya merasa lebih sering meng – cut angan2 , waswasa, pikiran yang kadang memang berlebihan tak penting. Ternyata banyak sekali hal sepele yang membuat beban tak perlu. 

Kuatir ini itu sehingga kita bersikap ekstra yang malah membebani. Kalau tak ada kekuatiran tak perlu maka kita akan bersikap biasa (tidak ekstra) dan walhasil juga tidak ada beban. Saya tak jelaslah pemikiran yang ekstra2 ini apakah bawaan saiton sang pembisik atau memang bawaan “kelemahan” manusia sendiri, tak taulah. Yang pasti membebani. 

Yang membuat kita malas itu kan beban, dan kadang beban itu berasal dari sesuatu yg remeh temeh saja. Mungkin pengalaman yang membuat saya memutuskan tak mau banyak pikir: kalau harus jatuh ya biar saja jatuh, harus kotor ya biar saja kotor, tak usah membebani diri dengan pemikiran ‘gimana supaya gak jatuh?’ atau ‘gimana supaya gak kotor?’ sepanjang memang tidak fatal. 

Hidup itu meletihkan…maka pangkas sajalah yang remeh temeh tak penting yang cuma akan membebani tanpa alasan yang keren.